Sabtu, 02 November 2013

naskah konseling kelompok

Naskah Konseling Kelompok
Masalah :
            Dalam kegiatan konseling kelompok ini masalah yang akan dibahas adalah peristiwa perkelahian antara seorang siswa  bernama X dengan seorang siswa bernama Y. Mereka berdua sama-sama duduk di kelas IX sebuah SMP swasta di kota Bengkulu. Perkelahian diantara mereka bermula saat siswi Y yang merupakan seorang ketua kelas menegur siswa X yang tidak mau masuk ke dalam kelas saat jam istirahat pelajaran berakhir. Siswa X yang merasa tidak terima dengan bentakan dari ketua kelasnya untuk segera masuk ke dalam kelas melakukan perlawanan dengan berbicara dengan nada keras dan mengeluarkan kata-kata kotor kepada lawannya siswa Y sehingga memicu pertengkaran mulut diantara mereka. Pertengkaran mereka berhenti saat guru masuk ke dalam kelas dan memulai jam pelajaran kembali, akan tetapi perasaan marah yang masih menguasai siswa X membuat ia tidak mampu mengendalikan pikirannya sehingga melakukan tindakan yang tergolong kenakalan yang cukup luar biasa. Seusai jam pelajaran berakhir dan menunggu guru yang akan mengajar mata pelajaran berikutnya masuk siswa X secara diam-diam menghidupkan korek api gas dan membakar rok yang dikenakan oleh siswa Y, akibatnya siswa Y menjerit kepanasan dan rok yang ia kenakan terbakar dan meninggalkan lobang yang mengakibatkkan kulit tubuh di area sensitifnya terlihat. Akibat kejadian ini siswa Y tidak terima akan perlakuan siswa X karena ia dibuat sangat malu dan tidak dapat mengikuti pelajaran di kelas karena rok seragamnya rusak. Keeseokan harinya orangtua siswa Y datang dan memarahi siswa X di sekolah sehingga membuat guru pembimbing turun tangan untuk menyelesaikan masalah ini. Melalui proses mediasi yang dilakukan oleh guru pembimbing terhadap orangtua siswa Y dengan siswa X dihasilkan keputusan bahwa siswa X harus mengganti rok seragam Y yang terbakar saat itu juga tidak boleh dilain hari dan apabila ia tidak sanggup menggantinya ia akan dikeluarkan dari sekolah. Karena keputusan ini dapat diterima oleh semua pihak maka siswa X segera mengganti rok seragam siswa Y sehingga untuk sementara masalah yang terjadi dapat diselesaikan. Namun, guru pembimbing tertarik untuk mengkaji permasalahan ini secara lebih mendalam dengan mendengarkan langsung keterangan dari kedua siswa tersebut. Karena masalah yang mereka alami merupakan masalah umum di sekolah yaitu perkelahian maka konselor juga mengundang siswa-siswa lain yang pernah mengalami masalah serupa untuk datang ke pertemuan konseling kelompok guna membagikan pengalaman mereka kepada siswa X dan Y dalam mengatasi masalah perkelahian diantara mereka. Dalam kegiatan konseling kelompok ini model konseling yang digunakan oleh Konselor adalah model konseling Behavioural yang mana model konseling ini menekankan asumsi perilaku bermasalah diakibatkan oleh kebiasaan-kebiasaan negatif atau perilaku yang tidak tepat yaitu perilaku yang tidak sesuai dengan tuntutan lingkungan. Dalam kegiatan konseling kelompok ini Konselor memandu kegiatan konseling dengan memasukkan beberapa keterampilan umum konseling dan beberapa keterampilan khusus yang ada dalam model konseling behavioural adapun keterampilan-keterampilan tersebut adalah :
1)      Perilaku attending
2)      Pertanyaan terbuka (opened question)
3)      Dorongan minimal (minimal enceourigement)
4)      Menjernihkan (Claryfying)
5)      Empati
6)      Memimpin (leading)
7)      Fokus
8)      Konfrontasi (confrontation)
9)      Menangkap pesan (Paraphrasing)
10)  Mengambil inisiatif
11)  Memberi nasihat
12)  Menyimpulkan sementra (summarizing)
13)  Refleksi (reflection)
14)  Interpretasi (interpretation)
15)  Pertanyaan tertutup (Close Question)
16)  Teknik diam
17)  Teknik penguatan
Adapun teknik khusus yang digunakan dalam model konseling behavioural adalah :
·         Latihan assertif
·         Desentisasi sistematis
·         Dan pembentukan perilaku model





Dialog :
Tahap pembentukan
Para klien : ‘’Assalamualaikum, Permisi Pak”.
Konselor : ‘’Waalaikumsalam , Ehh Anak-anak sekalian mari silahkan masuk” [ wajah tersenyum penuh kehangatan dan mengulurkan tangan menyalami para peserta] (Teknik Attending)
           
Para Siswa tersebut kemudian dipersilahkan masuk ke dalam ruang konseling kelompok dan mereka dipersilahkan duduk membentuk lingkaran. Kemudian Konselor duduk ditengah-tengah mereka dan membuka sesi konseling.

Konselor : “Assalamualaikumwarahmatulahiwaboraktuh , Selamat siang kepada Anak-anak sekalian telah menghadiri undangan dari bapak untuk melaksanakan kegiatan konseling kelompok siang ini. Tetapi, terlebih dahulu sebelum memulai proses konseling ada baiknya kita memperkenalkan diri terlebih dahulu nama Bapak Reno Agung Laksono usia bapak saat ini usia 20 tahun dan Bapak tinggal dikawasan Anggut atas Kota Bengkulu. Selanjutnya maukah kalian memperkenalkan diri ? (teknik pertanyaan tertutup)
Para klien : “Mau Pak...”
Konselor : “Baik, Silahkan perkenalkan Diri kalian masing-masing !’’.
Klien 1: “ Nama saya Deni April Yanti, Panggilan Saya sehari-hari Deni usia Saya 14 tahun dan saya tinggal di Kelurahan Bajak Kota Bengkulu sekian perkenalan dari Saya terima kasih.”
Klien 2: “ Nama Saya Oktarina Eka Pratiwi, Panggilan Saya sehari-hari adalah Eka usia saya 14 tahun dan Saya tinggal di Kelurahan Talang Kering Kota Bengkulu sekian perkenalan diri Saya terima kasih.”
Klien 3: “Nama Saya Putri Biyani, Panggilan Saya sehari-hari adalah Putri usia Saya 15 tahun dan Saya tinggal dikawasan Kelurahan Kandang Limun Kota Bengkulu dan Saya nge-kos bersama Kakak laki-laki Saya dan Saya berasal dari Jawa Tengah”.
Konselor : “Ohh (dormin) jauh sekali ya kampung halaman Teman kita ini, Mbak disana silahkan perkenalkan diri !”.
Klien 4 : “ Iya Pak nama Saya Rieke Agustia Putri, Panggilan Saya sehari-hari Rieke usia Saya 14 tahun dan Saya tinggal di kawasan perumahan Lingkar Barat Kota Bengkulu.
Konselor : “Baiklah Saya rasa sesi perkenalan sudah cukup dan Bapak melihat kalian bisa saling akrab satu sama lain.”
Tahap Peralihan
Konselor : “Sekarang untuk mengakrabkan suasana mari kita menyanyikan lagu disi-senang secara bersama... setuju”.
Para klien : “ Setuju , Pak... !”

            Setelah itu Konselor bersama Klien menyanyikan lagu tersebut secara bersama sehingga menimbulkan suasana akrab diantara mereka dan dengan suasana akrab tersebut dapat membantu klien untuk lebih terbuka dalam menceritakan masalahnya kepada orang lain.

Tahap Inti
Konselor : “Baiklah Anak-anak sekalian, Dalam kehidupan sehari-hari Kita selalu akan menghadapi tantangan yang harus Kita hadapi dan selesaikan namun apabila tidak bisa Kita selesaikan akan menimbulkan masalah bagi diri Kita. Sekarang Bapak ingin bertanya kepada kalian, Apakah ada diantara kalian yang ingin menyampaikan permasalahan yang kalian alami ? (teknik opened quoestion)
Klien 1 : “Saya , Pak !”
Konselor : “Oh ya, Silahkan “. (dormin)
Klien 1 : “ Begini Pak, Saya kemarin menjadi korban kejahilan dari Putri dia kemarin berkelahi dengan Saya dan membakar rok Saya sampai berlobang kemarin Pak. Putri marah kepada Saya karena saya menyuruhnya masuk ke dalam kelas saat Guru datang sehingga Kami ribut mulut namun dapat diselesaikan saat Guru datang, Tetapi Putri tidak puas Pak sehingga saat Guru keluar ruangan Dia membakar rok Saya Pak sampai berlobang sehingga Saya tidak bisa mengikuti pelajaran berikutnya. Saya sangat malu dan marah Pak atas kejadian ini.”
Konselor : “Oh... (dormin) , Kasihan sekali kamu Deni. Baiklah Kita telah mendengar masalah yang disampaikan Deni, Sekarang adakah diantara Kalian yang akan menanggapinya”.
Klien 2 : “ Aduh kasihan sekali Kamu Deni, Saya benar-benar miris mendengarnya dan Saya dapat merasakan apa yang kamu rasakan saat itu Deni”. (teknik empati)
Klien 4 : “ Iya benar... Saya setuju dengan Eka dan Saya ingin mendengar langsung dari Putri alasan penyebab Ia membakar rok Deni sampai hangus”. (teknik eksplorasi)
Klien 3 : “ Baiklah, Alasan Saya membakar rok yang dipakai Deni karena Saya sangat bosan dan jenuh mendengar omongan Deni saat memanggil Saya untuk masuk ke dalam kelas sehingga saat perasaan jengkel memuncak dalam pikiran Saya, Saya melawan Deni dan kemudian Saya membakar rok yang dikenakan Deni.”
Konselor : “Berarti saudari Putri, Deni dengan perkataannya telah membuat Saudari jenuh mendengarnya. Saya ingin mendengar dari Saudari Putri bagaimana kata-kata yang dikeluarkan Deni yang membuat Saudari kesal dan marah ?”. (teknik directing)
Klien 3 : “ Banyak Pak, Kata-kata itu sangat merendahkan Saya Pak seperti mengatakan Saya gendut, Sok kecantikan, atau pernah Saya dibilang Pak manusia kepala batu hitam sehingga kata-kata itu sungguh menyakitkan buat Saya terima Pak”.
Klien 2 : “ Dari perkataan yang dikatakan oleh saudari Deni kepada Putri, Tampaknya Deni memendam suatu kebencian kepada Putri.” (teknik Paraphrasing)
Klien 1 : “ Tidak teman-teman Saya sama sekali tidak membenci Putri tetapi yang saya lakukan adalah menegakkan kedisiplinan kepada Putri tetapi teman-teman Saya sering tidak mau mendengarkan Saya sehingga Saya memiliki pemikiran bahwa untuk menegakkan kedisiplinan Saya harus berkata kasar dan keras kepada Teman-teman Saya supaya mereka mau mendengar apa yang Saya katakan.”
Klien 4 : “Tujuan saudari Deni memang bagus, Akan tetapi akan lebih baiknya jika Saudari menggunakan kalimat-kalimat tegas yang lebih bagus. Dengan kelimat-kalimat positif atau setidaknya dengan tidak berkata kasar kepada Teman-teman Deni nilai kedisiplinan itu akan dapat tertanam dengan baik tanpa menimbulkan pertengkaran atau bahkan dendam diantara sesama Teman seperti yang terjadi pada kalian”. (Teknik Interpretasi)
Konselor : “Ya... Ya (Dormin) jawaban yang diberikan Rike sangat bagus. Tetapi penjelasan dari Rike tadi sedikit mengambang saat Bapak dengar, Bisakah Rike lebih mempertegas lagi maksud dari kalimat positif dan tidak berkatas kasar pada teman supaya lebih dapat dimengerti oleh Deni dan Putri”. (teknik Clarifying)
Klien 4 : “ Begini Teman-teman semua yang dimaksud dengan Kalimat positif itu adalah saat menegur teman-teman Kita tidak perlu menyinggung perasaannya, menghina kondisi fisiknya, menjatuhkan harga dirinya akan tetapi gunakanlah kalimat yang baik, Rangkullah Dia seperti sahabat Kita sendiri, dan hormatilah semua Teman kita di dalam kelas apapun kondisinya.”
Klien 2 : “ Wah jawaban yang sangat pas dan bijak dari Rike... Putri dan Deni apa kalian setuju dengan yang dikatakan Rike ? (teknik pertanyaan tertutup)
Klien 3 : “Setuju”.
Klien 2 : “Setuju”
Konselor : “Anda berdua terlihat murung dan Saya melihat Anda seperti menyesali suatu hal”. (Teknik Konfrontasi)
Klien 3 : “Nggak ada yang disesali kok Pak.”
Konselor : “ Tetapi gerak-gerik tubuh kalian menunjukkan yang sebaliknya, Sekarang Saya minta Kalian jujur untuk menceritakan apa yang Kalian sesali. Saya minta Putri bercerita lebih dahulu baru Deni”. (teknik meminpin/leading)
Klien 3 : “Saya merasa menyesal Pak , selama ini bersifat cuek bahkan sering jahil kepada Teman-teman Saya sehingga banyak Teman jadi benci dan kurang senang dengan Saya”.
Konselor : “Oh... ya (Dormin) Lalu Deni...?”.
Klien 1 : “Saya merasa sangat menyesal Pak, Selama ini selalu memandang rendah teman-teman Saya, Membentak Mereka, dan Saya merasa selama ini sebagai ketua kelas Saya semena-mena dengan Teman di kelas”.
Klien 2 : “Syukurlah Kalian berdua bisa menyadarinya, Tampaknya yang Kalian katakan merupakan penyesalan Kalian atas perkelahian yang terjadi”. (Teknik refleksi)
Konselor : “ Ya... Saya sangat setuju dengan Eka, Kalian berdua telah menyadari kesalahan Kalian. Sekarang mari Kita fikirkan cara untuk menghilangkan rasa sakit hati Kalian agar tidak timbul pertengkaran lagi dikemudian hari...”. (Teknik Fokus)
Klien 4 : “ Saya sangat setuju dengan Bapak, Tetapi akan lebih baik Jika usulan penyelesaian masalah ini datang dari Teman-teman sendiri lalu disempurnakan oleh Bapak sehingga hasil konseling ini dapat diterima dan dilaksanakan oleh Kita semua”. (Teknik mengambil inisiatif)
Konselor :  “Wow... itu usul yang sangat luar biasa, Saya sangat setuju dengan hal tersebut”.
                   Memang yang paling tepat nasihat dalam konseling datang dari diri Kalian sendiri sehingga Kalian menjadi mandiri dalam menghadapi masalah dan tidak bergantung pada Konselor”. (Teknik memberi Nasihat)
Klien 1 : “ Karena itulah Saya meminta saran dari Semua yang hadir dalam konseling kelompok ini...”.
Para klien :”...” (Teknik diam)
Konselor : “ Sekarang Saya meminta Kalian semua untuk menenangkan diri, Tarik nafas Kalian dalam-dalam. Sekarang Saya meminta Rike memukul bahu Deni dan Eka memukul bahu Putri tetapi Deni dan Putri Saya meminta tetap memejamkan mata dan dalam hati Kalian tanamkan bahwa Saya harus tersenyum dan menegurnya dengan baik.” (Teknik desensitisasi sistematis)
(Para Peserta konseling kelompok kemudian melakukan perintah Konselor)
Konselor : “ Sekarang Bapak meminta perasaan kalian setelah melakukan tindakan tadi”.
Klien 1: “ Saya merasa seperti bukan diri Saya sendiri tadi Pak, akan tetapi setelah peristiwa tadi Saya merasa lebih tenang dan bisa mengendalikan diri”.
Klien 3 : “ Saya juga merasakan hal yang sama Pak dengan yang dirasakan oleh Puteri”.
Konselor : “Baiklah , Sekarang Saya minta Putri menatap mata Eka dan Deni menatap mata Rike kemudian Putri mencurahkan isi perasaannya kepada terhadap Deni melalui Eka dan Deni juga melakukan hal yang sama pada Rike setelah Putri”. (Teknik latihan Asertif)
Klien 3 : “ Deni Saya tahu perbuatan Saya melawan Kamu adalah salah dan tindakan membakar rok seragammu merupakan tindakan terbodoh yang pernah Saya lakukan dan Saya mohon maaf kepadamu Deni”.[ menatap Rike]
Klien 1 : “  Putri Saya memohon maaf sama Kamu karena Saya telah menghina kondisi fisikmu dan membuatmu sangat marah kepada Saya dan Kamu sampai dimarahi oleh kedua orangtuamu karena Saya. [menatap Eka]
Konselor : “ Nah bagus itu Kalian bisa mengendalikan diri dan bisa mengakui kesalahan Kalian berdua (Teknik Penguatan), Sekarang akan lebih baik jika saat ini Kalian berdua bisa bermaafan secara langsung”.
Klien 3 : “Deni, Saya mohon maaf sama Kamu atas kesalahan yang telah saya perbuat sama Kamu dan Saya sangat menyesal atas semua yang terjadi maukah Kamu memaafkan Saya Deni... ?”
Klien 1: “Baiklah Putri Saya maafkan Kamu dan Saya juga mohon maaf atas perkataan Saya selama ini ke Kamu...”.
[ Deni dan Putri kemudian saling memaafkan dan berpelukan disambut dengan tepuk tangan sukacita oleh Peserta konseling kelompok].
Konselor : “Kalian bisa mencontoh bagaimana Eka dan Rike berperilaku, Dahulu Mereka sering bertengkar namun setelah Mereka berdua dapat membuka pikiran, Saling mengerti dan memahami perilaku Teman sehingga persahabatan Mereka awet dan tidak bertengkar satu sama lain, Jika Kalian mampu mencontoh perilaku Mereka maka Kalian bisa mendapat pujian dari Orang-orang di sekitar seperti yang diperoleh Rike dan Eka karena perilaku Mereka yang baik”. (Teknik pembentukan perilaku model)
Klien 2 : “Terima kasih Pak, Kami sangat tersanjung mendengarnya...”.
Konselor : “Baiklah, Sekarang Adakah diantara Kalian yang dapat memberikan solusi agar masalah Kita semua terhindar dari pertengkaran antar teman...? (Teknik pertanyaan terbuka)
Klien 4 : “ Kalau dari Saya Pak... sebaiknya Deni dan Putri melakukan hal-hal berikut agar tidak timbul pertengkaran seperti ;
·         Saling memiliki pengertian diantara teman, jadi dengan adanya saling pengertian diantara Kalian maka akan timbul pemahaman akan perilaku masing-masing sehingga Kalian tidak akan merasa risih dan tidak merasa terkejut saat Teman-teman kalian berperilaku yang membuat kalian terkejut karena dalam diri Kalian telah terdapat pemahaman diantara Kalian.
·         Saling menahan ego masing-masing karena Kita ini hidup dalam Masyarakat yang memiliki beraneka ragam perilaku baik itu di Sekolah maupun di lingkungan rumah Kalian. Dengan menahan ego Kalian masing-masing aka akan terhindar dari berbagai perasaan jengkel atas perilaku orang-orang di sekitar Kalian. Akan lebih baik jika Kalian lebih menjaga perilaku dan tidak menampilkan diri sebagai orang yang ditakuti tetapi sebagai sosok yang bersahaja dan bersahabat. (Teknik memberi Nasehat)
Konselor : “ Dari Eka , Apakah ada masukan lagi untuk mereka..?”. (Teknik pertanyaan terbuka)
Klien 2 : “Semua saran yang diberikan Rike sangat baik Pak, Tetapi Saya menambahkan sebuah saran Yaitu:
·         Dalam berperilaku Sehari-hari Kalian tidak perlu berperilaku keras supaya Kalian berdua lebih ditakuti dan membuat Teman-teman Kalian disiplin akan tetapi berperilakulah dengan lebih santai , Bersahabat, dan lebih menyesuaikan dengan perilaku yang harusnya ditunjukkan oleh remaja seusia Kita. Tidak usah kita menampilkan perilaku yang lebih dewasa dari usia Kita, Sebab dengan hal itu teman-teman Kalian akan menjauhi Kalian sebab Mereka merasa tidak sepaham dengan perilaku Kalian hal inilah yang menyebabkan Teman-teman Kalian menjauhi Kalian sehingga membuat Kalian menjadi beperilaku keras dan akhirnya timbul pertengkaran.
Konselor : “ Saya sangat setuju dengan semua Nasehat dari Rike dan Eka , Disini Saya menambahkan suatu hal yaitu Kalian dalam ke sekolah hendaknya perilaku Kalian tidak perlu keras atau menunjukkan kekuasaan Kalian kepada Teman-teman di sekolah. Akan lebih baik jika Kalian menyesuaikan perilaku dengan Teman-teman Kalian di Sekolah. Perilaku yang lebih baik Kalian terapkan di Sekolah adalah saling mengerti Teman-teman Kalian, Bersikap ramah dan penuh kehangatan, dan Kalau kalian tidak suka dengan perilaku Teman-teman Kalian lebih baik kalian menanggapinya dengan lebih bijak seperti tidak terpancing dengan provokasi Teman, Kalau kalian bosan melihat perilaku teman-teman Kalian daripada memukulnya lebih baik Kalian melakukan hal positif seperti olahraga atau menghabiskan waktu di perpustakaan sehingga Kalian akan terhindar dari hal negatif seperti perkelahian. (Teknik memberi nasehat)
Klien 1 : “Wah nasehat yang sangat bagus dan solusinya berkaitan dengan perilaku sehari-hari di kelas.”
Konselor : “Apakah Deni dan Putri bisa menerima Solusi-solusi yang diberikan dalam Konseling kelompok ini...?”.
Klien 3 : “ Bisa Pak dan Saya bersama Deni akan berusaha untuk melaksanakannya”.
Konselor : “ Bagus... berarti solusi-solusi yang diberikan dalam mengatasi masalah perkelahian Kalian melalui forum Konseling kelompok ini adalah :
·         Memiliki pengertian terhadap keanekaragaman perilaku yang ditunjukkan oleh teman-teman dikelas.
·         Menahan ego untuk menampilkan tingkah laku yang arogan
·         Menampilkan perilaku yang lebih tenang, bersahaja, dan bersahabat dalam berperilaku sehari-hari
·         Melakukan kegiatan-kegiatan positif untuk menghindari timbulnya perkelahian sebagai akibat ketidaksukaan atas perilaku teman. (Teknik Summarizing)
Klien 1 : “ Benar-benar solusi yang yang butuhkan saat ini dan Saya dapat menerimanya untuk dijalankan dalam pergaulan Saya di kelas sehari-hari”.
Klien 3 : “ Saya juga begitu Pak, Saya dapat menerima saran yang Bapak berikan”.
Konselor : “ Bagaimana dengan Eka dan Rike dengan solusi-solusi yang diberikan apakah masih ada tambahan... ?” (Teknik pertanyaan terbuka)
Klien 2 : “ Saya rasa tidak Pak, Itu sudah cukup untuk saat ini”.
Konselor : “ Baiklah kalau begitu Saya menyimpulkan jalannya konseling kelompok ini. Dimulai dari Deni dan Putri yang terlibat perkelahian di dalam kelas, Setelah melewati proses konseling kelompok masalah yang mendasari perkelahian mereka adalah masalah ketidakmampuan memahami perilaku Sahabat, Dan solusi-solusi yang diberikan melalui konseling kelompok ini adalah :memiliki pengertian akan sahabat, Menahan ego, menampilkan perilaku yang lebih tenang, dan melakukan kegiatan yang lebih positif dan Peserta yang terlibat aktif dalam kegiatan konseling kelompok ”. (Teknik Menyimpulkan)
Klien 1 : “ Saya dan Putri bisa menerima keputusan yang diambil dalam konseling kelompok ini dan akan menjalankannya dengan baik. Terima kasih atas solusi yang diberikan”.
Konselor ; “ Baiklah terima kasih atas keterlibatan Anak-anak sekalian dalam kegiatan konseling kelompok ini dan semoga hasil dari konseling kelompok ini dapat diterapkan dengan baik dan tidak ada lagi masalah diwaktu yang akan datang Amin.”
Para Klien : “Amin...”.
Konselor : “ Kalau begitu kita tutup kegiatan ini dengan lafaz Hamdalah, dan Wassalamualaikumwarahmatulahiwabarokatuh”
Para Klien : “ Waalaikumsalam”.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar