Minggu, 05 April 2015

contoh laporan akhir ppl BK di SMP

Bab 1
Pendahuluan

A.    Latar Belakang
Praktek pengalaman lapangan (PPL) merupakan salah satu program yang dijalankan oleh Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Bengkulu yang memiliki tujuan untuk memberikan “Life Skills” bagi mahasiswa, yaitu pengalaman belajar yang dapat memperluas wawasan, melatih dan mengembangkan kompetensi yang diperlukan dalam bidangnya, meningkatkan keterampilan, kemandirian, dan tanggung jawab dalam memecahkan masalah pendidikan pada umumnya dan Bimbingan dan Konseling pada khususnya.
Praktek Pengalaman Lapangan Bimbingan dan Konseling (PPL-BK) merupakan kegiatan yang dilakukan oleh mahasiswa untuk menerapkan ilmu yang diperoleh pada bangku kuliah di bidang Bimbingan dan Konseling. Pelaksanaaan PPL-BK difokuskan pada pelaksanaan layanan melalui kegiatan klasikal, pelaksanaan bimbingan kelompok, pelaksanaan konseling kelompok, pelaksanaan konseling individu, dan melakukan administrasi kegiatan pendukung Bimbingan dan Konseling.
Dalam melaksanakan tugasnya sebagai pemberi layanan dan dalam upaya membantu siswa mengatasi permasalahan yang mengganggu tahap perkembangan siswa, seorang calon Guru BK harus menguasai betul bagaimana karakteristik siswa yang ada di lingkungan sekolah dan menguasai hal-hal apa saja yang sangat dibutuhkan siswa di lingkungan sekolah. kedua hal ini sangat mutlak dilakukan seorang guru BK agar layanan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan siswa di sekolah.
Penulisan laporan ini didasarkan pada hasil kerja kegiatan mahasiswa praktikan dalam melaksanakan PPL-BK di SMP Negeri 22 Kota Bengkulu. Pelaksanaan pemberian layanan Bimbingan dan Konseling diharapkan dapat membantu siswa-siswa di lingkungan praktek mengatasi permasalahan-permasalahan yang mereka alami melalui kegiatan bimbingan klasikal, bimbingan kelompok, konseling kelompok, dan konseling individu. Melalui kegiatan PPL-BK di SMP Negeri 22 Kota Bengkulu, mahasiswa praktikan dapat menerapkan pengetahuan dan wawasan yang diperoleh dari kegiatan perkuliahan pada program studi Bimbingan dan Konseling ke dalam lingkungan kerja sebenarnya di Sekolah.


B.     Tujuan pembuatan laporan
Tujuan dari penyusunan laporan akhir PPL-BK adalah untuk mengetahui sejauh mana mahasiswa praktikan membangun interaksi dengan pihak-pihak terkait di sekolah yang menjadi lokasi penempatan mahasiswa praktikan. Interaksi yang dimaksud yaitu kemampuan mahasiswa praktikan dalam membangun hubungan dengan guru pamong besrta perangkat lain di sekolah dan interaksi dengan siswa di sekolah berkaitan dengan penyampaian materi layanan Bimbingan dan Konseling. Dalam laporan akhir ini juga termuat kemampuan mahasiswa praktikan dalam menyusun perangkat pembelajaran, berupa Rencana Pelaksanaan Layanan (RPL) dan Rencana Pelaksanaan Kegiatan pendukung (RPK). Tujuan dari pelaksanaan kegiatan PPL-BK adalah :
a.       Memberikan pengalaman kepada calon Guru Bimbingan dan Konseling dalam bidang pengajaran dan layanan Bimbingan dan Konseling di sekolah
b.      Melatih dan mengembangkan kompetensi kependidikan calon Guru Bimbingan dan Konseling
c.       Memberikan kesempatan kepada calon Guru Bimbingan dan Konseling untuk mempelajari, mengenal, dan menghayati permasalahan pada lembaga kependidikan terkait dengan proses pembelajaran, proses pembimbingan, proses konseling, dan kegiatan manajerial kelembagaan
d.      Memberikan kesempatan kepada calon Guru Bimbingan dan Konseling untuk menerapkan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang dikuasai selama perkuliahan pada situasi sebenarnya
e.       Mengembangkan kemampuan sekolah melalui transfer ilmu dan infromasi
f.       Membantu memecahkan permasalahan-permasalahan pembelajaran dan layanan Bimbingan dan Konseling di sekolah tempat PPL
g.      Meningkatkan hubungan kemitraan antara prodi Bimbingan dan Konseling FKIP UNIB dengan dinas pendidikan, kantor wilayah kementerian agama, sekolah, dan lembaga terkait lainnya







C.    Ruang Lingkup PPL-BK
Ruang lingkup dalam pelaksanaan PPL-BK di SMP Negeri 22 Kota Bengkulu berorientasi pada layanan Bimbingan dan Konseling dalam empat kegiatan yang mencakup  :
1.      Bimbingan klasikal
2.      Bimbingan kelompok
3.      Konseling kelompok
4.      Konseling individual

D.    Manfaat
Manfaat yang dapat dirasakan dari pelaksanaan PPL-BK antara lain :
·         Bagi mahasiswa
a.       Menambah pemahaman dan penghayatan calon Guru Bimbingan dan Konseling tentang proses pembelajaran di sekolah.
b.      Memperoleh pengalaman lapangan tentang cara berpikir dan bekerja secara interdisipliner sehingga dapat memahami adanya keterakaitan ilmu dalam mengatasi permasalahan pembelajaran dan Bimbingan dan Konseling di sekolah.
c.       Memperoleh daya penalaran dalam melaksanakan penelaahan, perumusan, dan pemecahan masalah-masalah yang terkait erat dengan layanan Bimbingan dan Konseling khususnya dan pembelajaran pada umumnya di sekolah.
d.      Memperoleh pengalaman lapangan mengenai keterampilan Bimbingan dan Konseling untuk melaksanakan pembelajaran, pembimbingan, layanan konseling, dan kegiatan manjerial di sekolah.
·         Bagi sekolah
a.       Memberi kesempatan kepada sekolah untuk menyiapkan calon Guru Bimbingan dan Konseling yang profesional
b.      Mendapatkan informasi-informasi baru mengenai pendidikan pada umumnya sehingga dapat memperluas pemikiran, menambah ilmu pengetahuan, dan teknologi dalam merencanakan serta melaksanakan pengembangan sekolah
·         Bagi FKIP Universitas Bengkulu
a.       Memperoleh umpan balik dari pelaksanaan PPL di sekolah guna pengembangan kurikulum dan Iptek yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat
b.      Memperoleh berbagai sumber belajar dan menemukan berbagai permasalahan untuk pengembangan penelitian dan pendidikan
c.       Terjalin kerjasama yang lebih baik dengan pemerintah daerah dan instansi terkait untuk pengembangan tri darma perguruan tinggi






























Bab 2
Hasil dan Pembahasan

A.    Deskripsi Lapangan dan Refleksi
I.       Deskripsi lapangan
Pengenalan lapangan atau observasi dilakukan oleh mahasiswa praktikan pada minggu pertama penempatan mahasiswa praktikan di sekolah. tujuan dari pengenalan lapangan agar mahasiswa praktikan mampu menyesuaikan diri secara baik dengan lingkungan sekolah yang menjadi lokasi PPL-BK mahasiswa praktikan. Pelaksanaan pengenalan lapangan atau observasi dimulai sejak dosen pembimbing mengantarkan mahasiswa praktikan ke lokasi sekolah tempat PPL-BK. Hal utama yang harus dikenali oleh mahasiswa praktikan  PPL-BK yaitu bagaimana Guru Bimbingan dan Konseling di sekolah dalam melaksanakan tugas-tugasnya. Pelaksanaan pengenalan lapangan dimulai sejak DPL menyerahkan mahasiswa praktikan ke sekolah pada tanggal 29 September 2014 dan berakhir pada 4 Oktober 2014. Hal-hal yang diobservasi oleh mahasiswa praktikan selama dalam tahapan deskripsi lapangan adalah :
a.       Kondisi dan kegiatan umum,
1)      Kegiatan akademik di sekolah. meliputi : cara guru mengajar dan identifikasi masalah dalam pembelajaran
2)      Kegiatan administrasi sekolah, meliputi : admnistrasi guru, pengelolaan daftar hadir guru dan pegawai, pengelolaan daftar hadir siswa, dan lain-lain
3)      Kegiatan non-akademik, seperti ekstrakulikuler.
4)      Organisasi personel sekolah disertai deskripsi tugas pokok
5)      Mengidentifikasi masalah pembelajaran yang dihadapi guru
b.      Kondisi dan kegiatan Bimbingan dan Konseling,
1)      Struktur organisasi personil Bimbingan dan Konseling disertai uraian tugas pokok dan fungsinya
2)      Program Bimbingan dan Konseling secara lengkap (tahunan, semesteran, bulanan, mingguan, dan harian) kemudian dilakukan analisis, evaluasi, dan rekomendasi
3)      Satuan layanan yang dibuat oleh guru Bimbingan dan Konseling di sekolah
4)      Pelaksanaan sembilan jenis layanan Bimbingan dan Konseling dan empat kegiatan pendukung di sekolah
5)      Sarana dan prasarana kegiatan layanan Bimbingan dan Konseling di sekolah
Dalam kegiatan pengenalan lapangan ini mahasiswa praktikan dibimbing untuk mengenali kondisi lapangan sekolah lokasi praktek dengan berpatokan pada hal-hal yang harus diobservasi seperti telah dijelaskan sebelumnya. Dalam mendapatkan data-data yang dibutuhkan dalam pengenalan lapangan, mahasiswa praktikan mendapatkannya dari hasil pengamatan langsung, wawancara dengan guru di sekolah, dan studi dokumentasi di sekolah.
Pengenalan lapangan penting bagi mahasiswa praktikan agar dapat menyesuaikan diri dengan baik selama melaksanakan kegiatan PPL-BK di SMP Negeri 22 Kota Bengkulu.
            Mahasiswa praktikan juga melakukan pengamatan terhadap kegiatan bimbingan klasikal dan bimbingan kelompok yang dijalankan oleh guru Bimbingan dan Konseling SMPN 22. Dalam observasi kegiatan klasikal ini mahasiswa praktikan mengamati cara guru BK menyampaikan materi layanan kepada siswa. Pengamatan ini perlu dilakukan agar menjadi bekal bagi mahasiswa praktikan dalam menyampaikan materi layanan kepada siswa di dalam kelas. Dari hasil pengamatan ini mahasiswa praktikan melakukan penyusunan laporan awal dan menjadi awal bagi praktikan untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan berikutnya di sekolah lokasi praktikan, SMP Negeri 22 Kota Bengkulu.
   Hasil pelaksanaan observasi-orientasi ini serta refleksinya telah dilaporkan secara lengkap pada laporan awal observasi-orientasi kegiatan PPL. Pengamatan ini menjadi sangat penting bagi mahasiswa praktikan guna mempelajari situasi dan kondisi lapangan sehingga mahasiswa praktikan dapat menyesuaikan diri dengan baik dan berhasil dalam menjalankan program yang dirancang dalam kegiatan PPL-BK.
Informasi lapangan yang diperoleh mahasiswa praktikan dari hasil pengamatan lapangan adalah :
1.      Kegiatan akademik
Sekolah sebagai salah satu pendidikan formal merupakan tempat siswa untuk mencari dan mendapatkan ilmu pengetahuan serta hal-hal baru lainnya, atau konsep-konsep yang terus berkembang. Sekolah sebagai lembaga pendidikan harus mampu membuat para siswa melaksanakan kegiatan belajar secara optimal. Sekolah juga harus mampu membuat dan membiasakan para siswa untuk dapat menggunakan sumber belajar yang telah tersedia secara maksimal karena pemanfaatan sumber belajar akan membantu peningkatan kualitas pendidikan di sekolah tersebut.
Dalam pelaksanaan kegiatan akademik di SMPN 22 Kota Bengkulu, kurikulum yang berlaku adalah kurikulum 2013 untuk kelas VII dan VIII dan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) bagi kelas IX.
Kegiatan akademik di SMPN 22 Kota Bengkulu dari hasil observasi praktikan berpedoman pada kalender akademik yang disusun oleh pihak sekolah. guru-guru melakukan kegiatan akademik berdasarkan alokasi kelas dan waktu pelajaran yang telah ditentukan kepada mereka. Pelaksanaan kegiatan belajar yang diobservasi praktikan yaitu kegiatan klasikal layanan Bimbingan dan Konseling. Pada pelaksanaan kegiatan klasikal BK, kegiatan terbagi menjadi tiga tahapan utama yaitu :
a.       Tahap pembuka
1)      Guru membuka pelajaran
2)      Guru mengabsen jumlah peserta didik yang hadir
3)      Guru mengajak siswa mengikuti kegiatan pelajaran dengan aktif
4)      Guru menyampaikan topik / materi yang akan dibahas
5)      Guru menjelaskan tujuan dari materi yang akan disampaikan
b.      Tahap inti
1)      Guru melakukan penjajakan materi, berupa pengenalan materi layanan secara singkat kepada siswa
2)      Guru melakukan penafsiran, yaitu menafsirkan gagasan-gagasan yang muncul dari siswa selama penyampaian materi layanan
3)      Guru melakukan pembinaan kepada siswa dengan memberikan penguatan-penguatan berupa materi maupun motivasi berkaitan dengan materi yang akan dibahasa
c.       Tahap akhir
1)      Guru melakukan penyimpulan atas materi layanan yang diberikan kepada siswa
2)      Guru menutup dan mengakhiri kegiatan layanan secara klasikal
Berdasarkan pengamatan praktikan dalam observasi kegiatan akademik, semua tahapan kegiatan layanan telah berjalan dengan baik.
Permasalahan yang dihadapi oleh guru dalam menyampaikan layanan secara klasikal di kelas adalah minat belajar siswa yang masih kurang dalam mengikuti layanan Bimbingan dan Konseling. Dalam mengatasi permasalahan ini praktikan melakukan tindakan sebagai berikut:
a.       Mahasiswa melaksanakan kegiatan klasikal Bimbingan dan Konseling dengan lebih menyederhanakan penggunaan bahasa dalam materi yang disampaikan sehingga siswa lebih mudah memahami dan mengerti materi yang disampaikan. Dengan memahami materi yang disampaikan keaktifan siswa dapat ditingkatkan di dalam kelas.
b.      Kegiatan klasikal yang dilakukan mahasiswa dibuat secara lebih santai dan namun mampu mengurangi perasaan stress siswa akibat beban pelajaran yang ada di dalam kelas. Kegiatan klasikal sendiri akan lebih banyak melibatkan siswa untuk aktif dalam berbicara dan beraktivitas sehingga mampu mengurangi sifat pasif siswa dalam kegiatan layanan klasikal Bimbingan dan Konseling
Selama masa observasi kegiatan akademik, praktikan memperhatikan kegiatan akademik lain yang berlangsung di SMPN 22 Kota Bengkulu yaitu kegiatan belajar mengajar, belajar tambahan (Les) bagi siswa kelas IX, dan praktek dalam mata pelajaran. Namun dalam pelaksanaan kegiatan bidang akademik, SMPN 22 menghadapi permasalahan kekurangan sarana pendukung dalam pelaksanaan pendidikan sehingga dalam beberapa mata pelajaran kegiatan pembelajarannya menjadi kurang maksimal.
            Pembinaan bimbingan akademik sangat diperlukan agar potensi yang dimiliki oleh peserta didik dapat dikembangkan secara optimal. Program bimbingan ini diarahkan agar dapat menjaga keseimbangan dan keserasian dalam perkembangan intelektual, emosional, dan sosial. Selain itu, program bimbingan juga diharapkan dapat mencegah dan mengatasi potensi-potensi negatif yang dapat terjadi dalam proses pembelajaran. Layanan bimbingan akademik maupun nonakademik diperlukan siswa untuk memenuhi kebutuhan individual anak baik secara psikologis maupun untuk mengembangkan kecakapan sosial agar dapat berkembang optimal.
2.      Kegiatan administrasi sekolah
a.       Pengelolaan daftar hadir guru
            Guru yang bertugas di SMPN 22 Kota Bengkulu sebanyak 26 orang dengan status PNS sebanyak 24 orang dan 2 orang berstatus sebagai guru honor sekolah. pengelolaan daftar hadir dilakukan melalui absensi guru yang ditandatangi oleh guru setiap mereka hadir ke sekolah.
b.      Pengelolaan daftar hadir staf tata usaha
Staf tata usaha yang bertugas di SMPN 22 Kota Bengkulu berjumlah 5 orang. Pengelolaan daftar hadir dilakukan melalui absensi yang ditandatangani staf tata usaha setiap hadir ke sekolah.
c.       Pengelolaan daftar hadir siswa
Jumlah siswa/i SMPN 22 Kota Bengkulu sebanyak 265 orang yang terbagi dalam dua belas rombongan belajar. Pengelolaan absensi siswa dilakukan dengan mengumpulkan data absensi kehadiran setiap kelas yang kemudian dikumpulkan didalam buku piket.
3.      Kondisi fisik sekolah
SMPN 22 Kota Bengkulu terletak di Jalan Padat Karya, Kelurahan Bentiring, Kecamatan Muara Bangkahulu, Kota Bengkulu. Posisi lokasi SMPN 22 Kota Bengkulu sangat berdekatan dengan perbatasan Kabupaten Bengkulu Tengah dengan Kota Bengkulu. SMPN 22 Kota Bengkulu berdiri di atas lahan seluas 10.000 m2 dengan luas bangunan 1.520 m2. SMP N 22 Kota Bengkulu didirikan pada tahun 2004 dengan nomor statistik sekolah
21266004000 diatas tanah milik pemerintah Kota Bengkulu. SMPN 22 Kota Bengkulu memiliki fasilitas ruang belajar 12 unit, 1 unit musholla, 1 unit laboratorium, 1 unit perpustakaan, 2 unit Wc, 1 unit ruangan guru, 1 unit ruangan staff tata usaha, 1 unit gudang olahraga, 1 unit ruang UKS, 1 unit ruang koperasi, dan 1 unit ruang BK. Secara umum kondisi fisik bangunan di SMPN 22 Kota Bengkulu masih sangat baik dan lingkungan sekitar sekolah sangat terjaga kebersihannya karena setiap hari senin sampai sabtu diadakan piket umum oleh siswa/i untuk membersihkan lingkungan di sekitar sekolah. masalah kondisi fisik yang dihadapi oleh SMPN 22 Kota Bengkulu adalah kurangnya ruangan di sekolah dan kondisi lapangan sekolah yang belum disemen sehingga tidak bisa digunakan saat musim hujan.
4.      Kondisi pelayanan Bimbingan dan Konseling (BK)
Kondisi pelayanan BK di SMPN 22 Kota Bengkulu telah berjalan dengan saat baik. Pelayanan BK di SMPN 22 Kota Bengkulu dilaksanakan oleh Ibu Lindawati, S.E yang telah memiliki sertifikasi sebagai guru BK di SMPN 22 Kota Bengkulu. Pelayanan BK di SMPN 22 Kota Bengkulu berdasarkan hasil pengamatan praktikan berjalan dengan lancar dan tidak ada hambatan dalam melaksanakan kegiatan BK di SMPN 22 Kota Bengkulu. Perencanaan program telah dilaksanakan dengan baik dan berlandaskan pada penggunaan aplikasi instrumentasi BK yaitu AUM Umum dan IKMS. Hasil penggunaan instrumentasi digunakan untuk menyusun program BK mulai dari program tahunan hingga harian. Dalam melaksanakan program layanan BK, Guru BK mendapatkan jam mengajar klasikal di kelas dengan alokasi waktu 1 jam pelajaran di setiap kelas. Pelayanan BK berjalan dengan efektif dalam bidang layanan klasikal, Bimbingan kelompok, konseling kelompok, dan konseling individu. Hambatan dalam pelayanan BK adalah kondisi ruang BK yang belum memadai dan tidak bisa difungsikan dengan optimal karena pintu masuk ruangan berada didalam ruang kelas sehingga kurang dapat digunakan untuk pelaksanaan kegiatan BK di SMPN 22 Kota Bengkulu.


II.  Refleksi
Kegiatan observasi merupakan tahap pengenalan lapangan yang sangat dibutuhkan oleh praktikan, karena melalui tahap ini praktikan dapat mengatahui lingkungan sekolah dimana ia akan melaksanakan PPL-BK. Selain itu hal ini akan mendukung proses adaptasi bagi praktikan dalam praktik di lapangan tersebut. Kegiatan ini mempunyai alokasi waktu selama satu minggu. Pada pelaksanaan observasi ini praktikan memperolah informasi melalui guru-guru,  pegawai TU,  dan siswa-siswi. Adapun hal-hal yang diamati selama pelaksanaan pengenalan lapangan pada tahap observasi adalah:
a)      Keadaan fisik sekolah.
b)      Keadaan lingkungan sekolah.
c)      Fasilitas sekolah.
d)     Guru dan siswa di sekolah.
e)      Interaksi sosial yang terjadi di sekolah.
f)       Tata tertib yang berlaku dan sebagainya.
g)      Penyusunan program Bimbingan dan Konseling
h)      Pelaksanaan program Bimbingan dan Konseling di sekolah
Hal ini dilakukan agar praktikan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan belajar dan lingkungan sekolah. Keterangan lebih rinci tentang keadaan lapangan telah diuraikan pada laporan awal. Melalui observasi praktikan dapat menyimpulkan bahwa SMP N 22 Kota Bengkulu merupakan sekolah yang sedang dalam tahap perkembangan menuju ke arah yang lebih baik dengan berbagai macam tantangan yang dihadapi sekolah dalam upaya mencapai sekolah dengan prestasi yang maksimal . Cara guru mengajar sudah sangat baik dan lingkungan sekolah pun cukup kondusif untuk melakukan kegiatan belajar mengajar. Dalam kegiatan mengajar, Guru yang mengajar di SMP N 22 Kota Bengkulu menghadapi tantangan untuk menciptakan suasana belajar yang menarik dan dapat menarik minat siswa untuk lebih antusias dalam mengikuti kegiatan pembelajaran.
Kegiatan belajar mengajar di SMP Negeri 22 Kota Bengkulu untuk kelas VII – Kelas IX  dimulai pukul 07.30 WIB dengan dua kali istirahat bermain masing-masing 15 menit. Dan berakhir pukul 13.10 WIB, Saat pukul 07.30 WIB pintu untuk akses keluar masuk warga SMPN 22 ditutup dan kembali dibuka pada pukul 08.00 WIB. Hal ini dilakukan untuk kedisiplinan dan kenyamanan bersama.


B.     Hasil PPL-BK
1.      Satuan layanan
Dalam pelaksanaan pelaksanaan kegiatan layanan BK, satuan layanan merupakan panduan yang dibuat oleh guru BK dalam melaksanakan suatu kegiatan layanan kepada siswa. Dalam pelaksanaan PPL-BK di SMPN 22 Kota Bengkulu, praktikan membuat satlan dengan menggunakan istilah baru yaitu Rencana Pelaksanaan Layanan (RPL) yang mengacu pada panduan BK dalam kurikulum 2013 tingkat SMP/MTS.

2.      Bimbingan klasikal
Layanan bimbingan klasikal adalah salah satu pelayanan dasar bimbingan yang dirancang menuntut konselor untuk melakuka kontak langsung dengan para peserta didik dikelas secara terjadwal, konselor memberikan pelayanan bimbingan ini kepada peserta didik. Kegiatan bimbingan kelas ini bisa berupa diskusi kelas atau curah pendapat. Layanan bimbingan klasikal merupakan layanan dalam bimbingan dan konseling. Layanan bimbingan klasikal berbeda dengan mengajar. Layanan ini juga memiliki beberapa ketentuan dalam pelaksanaannya.
Pada saat berada di lokasi PPL SMPN 22, praktikan mendapatkan jam mengajar selama 1 jam pelajaran di setiap kelas untuk mengadakan kegiatan bimbingan klasikal. Materi yang dibahas dalam kegiatan klasikal didasarkan dari hasil instrumentasi AUM UMUM dan AUM PTSDL siswa asuh praktikan di kelas IX B, IX C, IX D, dan VII B. Rincian pelaksanaan kegiatan bimbingan klasikal adalah :
Tanggal
Kelas
Materi
14/10/2014
IX C
Membangun hubungan yang baik dengan teman
16/10/2014
IX B
Beasiswa dalam dunia pendidikan
21/10/2014
IX C
Pelajaran yang disenangi dan tidak disenangi
23/10/2014
VII B & IX B
Sikap menghargai dan menghormati antar teman
30/10/2014
VII B
Masalah pribadi di lingkungan remaja
06/11/2014
VII B
Langkah dan keuntungan menjadi siswa sukses
06/11/2014
IX B
Sukses diterima di SMA/SMK impian
25/11/2014
IX C
Persiapan diri menghadapi ulangan semester
27/11/2014
IX B
Persiapan diri menghadapi ulangan semester
02/11/2014
IX D
Teknik menghapal jelang ulangan semester
04/11/2014
IX B
Teknik menghapal jelang ulangan semester
3.      Bimbingan Kelompok
Bimbingan kelompok menurut Prayitno ( 1995: 178) adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh sekelompok orang dengan memanfaatkan dinamika kelompok. Artinya semua peserta dalam kelompok saling berinteraksi, bebas mengeluarkan pendapat, menanggapi dan memberi saran dan lain-lain sebagainya apa yang dibicarakan itu semuanya bermanfaat untuk diri peserta yang bersangkutan sendiri dan untuk peserta lainnya.
Selama melaksanakan PPL-BK di SMPN 22 Kota Bengkulu, Praktikan mengadakan beberapa kali kegiatan bimbingan kelompok terhadap siswa asuh di sekolah. Topik yang dibahas selama pelaksanaan kegiatan bimbingan kelompok diangkat dari hasil instrumentasi BK yaitu AUM Umum dan AUM PTSDL yang telah dibagikan sebelumnya. Pelaksanaan kegiatan bimbingan kelompok dilakukan berdasarkan kesepakatan dengan siswa asuh, dimana siswa meminta kegiatan bimbingan kelompok dilakukan pada saat jam mata pelajaran BK berlangsung sehingga tidak berbenturan dengan jam pulang sekolah. pada pelaksanaan bimbingan kelompok dilakukan dengan membagi dua kelompok setiap kelas yaitu kelompok siswa laki-laki dan kelompok siswa perempuan. Materi-materi bimbingan kelompok yang diberikan praktikan kepada siswa asuh adalah :
Tanggal
Sasaran
Materi
14/10/2014
Siswa laki-laki kelas IX D
Membangun rasa percaya di dalam diri
21/10/2014
Siswi perempuan kelas IX D
Percaya diri dalam ujian nasional
28/10/2014
Siswa perempuan kelas IX D
Cinta di kalangan remaja
30/10/2014
Siswa laki-laki kelas IX B
Mencegah diri menjadi pengangguran
11/11/2014
Siswa laki-laki kelas IX D dan IX C
Menghadapi ketakutan di lingkungan sekolah
13/11/2014
Siswi perempuan kelas VII B dan IX B
Masalah kesehatan pada siswa
20/11/2014
Siswa laki-laki kelas VII B
Pengenalan pelaksanaan ujian nasional sejak dini
20/11/2014
Siswa laki-laki kelas IX B
Jenis-jenis lapangan pekerjaan yang ada di Indonesia
27/11/2014
Siswi perempuan kelas VII B
Belajar efektif menjelang ulangan semester
04/12/2014
Siswa laki-laki kelas VII B
Belajar efektif menjelang ulangan semester

4.      Konseling kelompok
Menurut Sukardi (2008:68) konseling kelompok adalah layanan yang memungkinkan peserta didik memperoleh kesempatan untuk pembahasan dan pengentasan permasalahan yang dialaminya melalui dinamika kelompok. Dalam pelaksanaan layanan konseling kelompok terdapat beberapa tahapan yang harus dilakukan yaitu :
a.       Tahap perkenalan
Pada tahap ini diawali dengan menciptakan suasana nyaman untuk konsultasi dengan pembina rapport yang makin lama makin membuka peluang untuk sebuah  keterbukaan.  Inti sebuah encounter  adalah penghargaan kepada sesama manusia, ketulusan hati, dan pelayanan. Percakapan dalam tahap ini tak jarang memberikan efek terapi bagi konseli.
b.      Tahap pengungkapan
Pada tahap ini konselor mulai membuka dialog mengenai masalah yang dihadapi konseli. Berbeda dengan konseling lain yang cenderung membiarkan konseli “sepuasnya” mengungkapkan masalahnya, dalam konseling ini konseli  sejak awal diarahkan untuk menghadapi masalah itu sebagai kenyataan. Dan untuk membantu konseli menangani perasaan tidak bermakna.
c.       Tahap pembahasan
konselor dan konseli bersama-sama membahas dan menyamakan persepsi atas masalah yang dihadapi. Tujuannya untuk menemukan arti kebermaknaan hidup.
d.      Tahap evaluasi dan penyimpulan
Di sini konselor mencoba memberi interpretasi atas informasi yang diperoleh sebagai bahan untuk tahap selanjutnya, yaitu perubahan sikap dan perilaku konseli. Pada tahap-tahap ini tercakup modifikasi sikap, orientasi terhadap makna hidup, penemuan dan pemenuhan makna, dan pengurangan symptom.
Tahapan-tahapan diatas, merupakan panduan dalam menjalankan layanan konseling kelompok kepada klien yakni siswa di sekolah.
            Selama melaksanakan PPL-BK di SMPN 22 Kota Bengkulu, praktikan melaksanakan kegiatan konseling kelompok sebanyak dua kali pada kelas IX C. Kegiatan pertama berlangsung pada tanggal 04 November 2014 yang membahas permasalahan dalam bidang kehidupan pribadi yaitu “Pola asuh orangtua yang otoriter”. Kegiatan kedua berlangsung pada tanggal 02 Desember 2014 yang juga membahasa masalah dalam bidang kehidupan pribadi yaitu “ Permasalahan pacaran jarak jauh”. Pelaksanaan kegiatan konseling kelompok pertama dilangsungkan di mushollah sekolah dan kegiatan konseling kelompok kedua dilakukan di ruang kelas IX C. Dalam pelaksanaan konseling kelompok, praktikan menggunakan dinamika kelompok dalam membahas permasalahan yang dikemukakan dalam konseling kelompok untuk bersama dicari solusi yang tepat atas permasalahan tersebut.

5.      Konseling Individu
Layanan konseling individu merupakan layanan yang diberikan untuk membantu klien mengtasi permasalahan yang dialaminya dengan melakukan pertemuan secara pribadi antara konselor dengan klien. Selama melaksanakan PPL-BK di SMPN 22 Kota Bengkulu, praktikan melakukan konseling individu terhadap tiga orang klien, dua orang dari kelas IX dan satu orang klien dari kelas VIII. Gambaran konseling individu setiap klien adalah sebagai berikut :
a.       Deskripsi kegiatan konseling klien 1
1.      Identitas
Nama               : M-Y
Jenis kelamin   : Perempuan
Kelas               : IX C
Alamat             : Tanjung Agung, Kota Bengkulu
Agama             : Islam
Konseling        : ke- 1
Permasalahan  : Membolos dari sekolah
2.      Deskripsi kasus
Ø  Gejala yang nampak
Klien dalam keseharian di sekolah banyak menampilkan perilaku yang menarik perhatian orang banyak. Dalam nada berbicara dengan teman klien cenderung berbicara dengan nada yang tinggi. Klien sering memancing timbulnya keributan dengan teman sekelasnya terutama dengan teman laki-laki yang ada di dalam kelas.
Ø  Keadaan jasmani/kesehatan
Klien memiliki kondisi kesehatan yang baik, kondisi tubuh klien sempurna tidak mengalami kekurangan, dan klien tidak memiliki perbedaan dengan teman-temannya yang lain.
Ø  Keadaan tempat tinggal
Klien tinggal bersama dengan kedua orangtuanya di kawasan Kelurahan Tanjung Agung, Kota Bengkulu. Dalam keseharian klien menghadapi kondisi orangtuanya yang sering mengalami pertengkaran akibat masalah anak-anak mereka.
Ø  Keadaan/keinginan sekolah
Klien memiliki keinginan sekolah yang tinggi, namun menurut klien kondisi sekolah kurang menyenangkan sehingga membuat klien tidak betah dan sering membolos dari sekolah.
Ø  Sifat-sifat awal
Sifat awal yang ditampilkan klien saat praktikan bertemu dengannya yakni klien sering membuat keributan terutama dengan teman laki-laki di dalam kelasnya dan dalam interaksi dengan guru klien menunjukkan perilaku yang berlebihan agar ia dapat diperhatikan oleh guru di sekolah.
3.      Diagnosis
Klien M-Y merupakan siswa yang aktif di sekolah dan klien juga termasuk orang yang banyak memiliki pergaulan di sekolah. klien jarang menghadiri kegiatan belajar di sekolah karena ia lebih membolos daripada datang ke sekolah. penyebab klien membolos karena ia merasa kesal dengan orangtuanya yang selalu bertengkar dihadapan anak-anaknya dan klien juga merasa tidak senang dengan perlakuan beberapa oknum guru yang ada di sekolah karena menurut klien mereka sering menyampaikan perkataan-perkataan yang membuat klien merasa tersudut dan menimbulkan ketersinggungan di dalam diri klien. Membolos diakui klien merupakan upaya pelariannya dari permasalahan yang dihadapi klien baik di rumah maupun di sekolah.



4.      Prognosis
Ø  Prognosis pemecahan masalah yang dikemukakan klien
Klien mengemukakan pemikirannya bahwa untuk mengatasi permasalahan membolos yang dialaminya klien memilih untuk diantar jemput langsung oleh kedua orangtuanya sampai ke gerbang sekolah. klien beralasan dengan cara seperti itu keinginan untuk membolos di dalam dirinya dapat berkurang dan orangtua klien tidak khawatir terhadap klien.
Ø  Prognosis pemecahan masalah yang dikemukakan praktikan
Praktikan mengemukakan pemikirannya bahwa dalam mengatasi permasalahan membolos sekolah yang dialami klien ada dua tindakan yang dapat dilakukan yaitu :
a)      Klien harus menanamkan sifat jangan mudah tersinggung di dalam dirinya. Sifat ini sangat penting untuk dimiliki klien sebab dalam kehidupan sehari-hari dirinya akan menghadapi berbagai macam karakter dan sifay manusia terutama dalam bertutur bahasa. Dengan mengurangi sifat mudah tersinggung akan melatih klien memiliki kesabaran dan mematangkan kematangan emosi di dalam diri klien. Melatih diri untuk tidak mudah tersinggung akan sangat berguna bagi klien tidak hanya dalam kehidupannya sekarang sebagai siswi SMP, tetapi juga untuk kehidupan klien dimasa depan.
b)      Klien dianjurkan untuk mengingat perjuangan kedua orangtuanya terutama sosok ibu yang telah melahirkan dan membesarkan klien selama ini. Dengan mengingat sosok ibu klien dapat meresapi perjuangannya dalam membiayai sekolah klien. Rasa bersalah juga akan muncul saat klien mengingat ibunya ketika keinginan melakukan tindakan membolos muncul lagi di dalam pemikiran klien.
Ø  Menetapkan pilihan
Pilihan prognosis yang dipilih klien setelah melakukan proses konseling individu yaitu prognosis kedua yang diajukan praktikan yaitu mengingat ibu setiap kali keinginan untuk membolos muncul di dalam diri klien. Pilihan ini ditetapkan setelah klien bersama praktikan mengkaji kelebihan dan kekurangan disetiap prognosis yang diajukan dalam kegiatan konseling individu.

5.      Kesimpulan
Kesimpulan yang diambil yakni dalam menghadapi berbagai macam permasalahan kehidupan, tindakan membolos merupakan tindakan yang sangat tidak tepat untuk dilakukan. Tindakan membolos dapat menambah beban permasalahan bahkan menambah masalah baru sehingga merugikan individu yang bermasalahah.
b.      Data konseling individu klien ke- 2
1.      Identitas
Nama               : I-N-S
Jenis kelamin   : Perempuan
Kelas               : VIII C
Alamat             : Kandang limun , Kota Bengkulu
Agama             : Islam
Konseling        : ke- 1
Permasalahan  : pacar yang possesif
2.      Deskripsi kasus
Ø  Gejala yang nampak
Klien menjalin hubungan dengan teman satu sekolah dan ruangan kelas dan pacarnya bersebelahan. Klien harus menghadapi perilaku pacarnya yang possesif karena lokasi kelas mereka berdekatan sehingga pacar klien dapat melihat perilaku klien bersama teman-temannya di kelas. Klien pernah memutuskan pacarnya dan menjalin hubungan dengan laki-laki lain namun karena tidak merasa adanya kecocokan klien kembali kepada pacar lamanya. Peristiwa tersebut menyebabkan pacar klien menjadi lebih posesif dan meminta perhatian lebih dari klien .
Ø  Keadaan jasmani/kesehatan
Klien memiliki kondisi kesehatan yang baik, kondisi tubuh klien sempurna tidak mengalami kekurangan, dan klien tidak memiliki perbedaan dengan teman-temannya yang lain.
Ø  Keadaan tempat tinggal
Klien tinggal bersama dengan neneknya di kawasan Kandang Limun, Kota Bengkulu. Orangtua klien sendiri tinggal di desa Lubuk Durian, Kabupaten Bengkulu Utara, mereka tinggal berjauhan karena orangtua klien merawat kebun disana. Nenek klien memperlakukan klien dengan baik dan sangat menjaga klien karena merupakan cucu perempuan yang tinggal bersamanya.
Ø  Keadaan/keinginan sekolah
Klien memiliki keinginan sekolah yang tinggi dan termasuk siswa yang aktif dalam mengikuti setiap kegiatan sekolah
Ø  Sifat-sifat awal
Sifat awal yang ditampilkan klien saat praktikan bertemu dengan praktikan sangat baik. Klien menunjukkan diri sebagai siswa yang aktif dalam belajar dan sangat bersahabat dengan praktikan.
3.      Diagnosis
Klien I-N-S merupakan siswi yang duduk di kelas VIII, ia menjalin hubungan dengan temannya sesama kelas VIII dan ruangan kelas mereka bersebelahan sehingga klien sering bertemu dengan pacarnya. Klien berkenalan dengan pacarnya saat masa orientasi sekolah (MOS) dan mereka sudah berpcaran selama satu tahun. Hubungan klien dengan pacarnya tidak disetujui oleh teman-teman klien karena pacar klien punya sifat posesif dan pencemburu, namun klien memilih bertahan karena pacarnya memiliki perilaku yang baik, sudah kenal dengan keluarganya, dan memiliki sepeda motor sendiri. Klien mengaku pernah berselingkuh dan ketahuan oleh pacarnya, akibatnya mereka sempat putus namun kembali lagi. Perselingkuhan klien membekas di ingatan pacarnya sehingga pacar klien masih ragu dengan klien dan ia meminta klien memberi perhatian lebih di sekolah sebagai tanda cinta, namun klien menolak karena merasa tidak enak dengan teman-temannya yang lain. penolakan ini mengakibatkan mereka sering bertengkar dan kepercayaan diantara klien dan pacarnya belum tumbuh dengan sempurna.

4.      Prognosis
Ø  Prognosis pemecahan masalah yang dikemukakan klien
Klien mengemukakan pemikirannya bahwa untuk mengatasi permasalahan membolos yang dialaminya klien memilih untuk membangun komunikasi langsung dengan pacarnya dengan cara memanggil sang pacar setiap bertemu sesuai dengan keinginan pacar klien.
Ø  Prognosis pemecahan masalah yang dikemukakan praktikan
Praktikan mengemukakan pemikirannya bahwa dalam mengatasi permasalahan membolos sekolah yang dialami klien ada dua tindakan yang dapat dilakukan yaitu :
a.       Klien harus membicarakan secara langsung kepada klien bahwa ia sudah berubah dan tidak akan lagi berselingkuh. Berbicara langsung membuat klien dan pacarnya dapat mengetahui perasaan dan keinginan mereka masing-masing. Berbicara langsung dapat mengurangi perasaan marah dan beban pikiran yang berkecamuk di dalam hati dan pikiran masing-masing.
b.      Klien dianjurkan untuk memberikan senyuman kepada pacarnya saat bertemu. Dengan memberikan senyuman, klien dapat menunjukkan perhatian kepada sang pacar dan klien dapat mengurangi perasaan segan saat bertemu dengan dihadapan teman-teman klien dan pacarnya.
Ø  Menetapkan pilihan
Pilihan prognosis yang dipilih klien setelah melakukan proses konseling individu yaitu prognosis kedua yang diajukan praktikan yaitu dengan memberikan senyuman kepada pacar klien saat bertemu. Alasan yang pemilihan prognosis tersebut karena klien merasa nyaman dan sangat siap untuk melakukan tindakan tersebut dan ia dapat mengurangi perasaan segan dihadapan teman-temannya dan teman-teman sang pacar

5.      Kesimpulan
Kesimpulan yang diambil yakni dalam menjalin suatu hubungan sangat diperlukan adanya rasa saling percaya dan pengertian diantara pasangan. Dengan adanya kedua hal tersebut maka hal-hal yang tidak diinginkan dalam hubungan akan dapat terhindar dan hubungan yang terjalin akan menjadi hubungan yang baik bagi kedua pasangan.

c.       Data konseling individu klien ke- 3
1.      Identitas
Nama               : F
Jenis kelamin   : Laki-laki
Kelas               : IX C
Alamat             : Talang Kering , Kota Bengkulu
Agama             : Islam
Konseling        : ke- 1
Permasalahan  : kebingungan dalam memilih kekasih
2.      Deskripsi kasus
Ø  Gejala yang nampak
Klien menjalin hubungan dengan seorang perempuan yang duduk di kelas VIII SMP N 15 Kota Bengkulu, selama menjalin hubungan klien merasa nyaman dan menghadapi berbagai macam perilaku dari kekasihnya. Seiring berjalannya waktu klien berkenalan dengan kakak dari kekasihnya yang saat ini duduk di kelas XI SMA dan ternyata kakak dari kekasih klien menaruh perasan cinta terhadap klien karena ia menjalin hubungan jarak jauh dengan pacarnya. Perhatian yang diberi oleh kakak kekasih klien menimbulkan perasaan tertarik di dalam diri klien terhadap kakak kekasihnya. Perhatian klien terhadap kakak kekasihnya menimbulkan prasangka di dalam diri kakak kekasih klien bahwa klien juga tertarik kepadanya, akibatnya timbul perhatian berlebih dari sang kakak kekasih terhadap klien yang sangat berlebihan. Klien sangat kebingungan sebab perhatian yang berlebihan tersebut diiringi dengan ultimatum bahwa klien harus memilih antara pacarnya sekarang atau kakak sang pacar. Kedua pilihan ini membuat klien dilanda kondisi bingung dan sulit untuk menentukan keputusan.
Ø  Keadaan jasmani/kesehatan
Klien memiliki kondisi kesehatan yang baik, kondisi tubuh klien sempurna tidak mengalami kekurangan, dan klien tidak memiliki perbedaan dengan teman-temannya yang lain.
Ø  Keadaan tempat tinggal
Klien tinggal bersama dengan kedua orangtuanya dikawasan kelurahan Talang Kering, Kota Bengkulu. Klien tinggal dengan nyaman bersama kedua orangtuanya sebelumnya klien tinggal dikawasan Rawa Makmur.
Ø  Keadaan/keinginan sekolah
Klien memiliki keinginan sekolah yang baik, namun klien sering tidak hadir di sekolah dengan alasan yang kurang jelas.
Ø  Sifat-sifat awal
Sifat awal yang ditampilkan klien saat bertemu dengan praktikan cukup baik dan tidak menunjukkan gejala yang aneh.


3.      Diagnosis
Klien F mengalami permasalahan karena ia harus menetapkan pilihan diantara dua orang bersaudara untuk menjadi kekasihnya. Kedua bersaudara tersebut menaruh perhatian kepada klien karena klien memberikan perhatian kepada dua saudara tersebut. Klien sendiri menjalin hubungan dengan sang adik sedangkan kakak kekasihnya sangat terobsesi ingin memiliki klien. Obsesi sang kakak kekasih membuat klien merasa tidak nyaman sedangkan perasaannya sampai saat ini masih mencintai dengan sang kekasih. Klien sangat ingin memutuskan komunikasi dengan kakak sang kekasih namun ia bingung harus melakukan tindakan yang tepat.

4.      Prognosis
Ø  Prognosis pemecahan masalah yang dikemukakan klien
Klien mengemukakan pemikirannya dalam mengatasi permasalahannya yaitu dengan memutuskan hubungan dengan pacarnya dan menjauhi kakak sang kekasih, dengan demikian tidak ada yang menang atau kalah dari kedua kakak beradik tersebut.
Ø  Prognosis pemecahan masalah yang dikemukakan praktikan
Praktikan mengemukakan pemikirannya bahwa dalam mengatasi permasalahan asmara yang dialami klien ada dua tindakan yang dapat dilakukan yaitu :
a.       Klien dapat melakukan kontak dengan orang terdekat kakak kekasihnya tersebut untuk membujuk sang kakak agar memikirkan perasaan adiknya yang merupakan pacar klien. Nasihat yang diberikan oleh orang-orang terdekat akan memiliki pengaruh bagi sang kakak pacar klien agar ia menyadari bahwa tindakannya salah
b.      Klien dapat melakukan tindakan dengan cara mengurangi komunikasi dengan kakak kekasihnya seperti dengan mengurangi intensitas membalas SMS, mengurangi intensitas menelepon, dan menambah intensitas komunikasi dengan pacar.  
Ø  Menetapkan pilihan
Pilihan prognosis yang dipilih klien setelah melakukan proses konseling individu yaitu prognosis kedua yang diajukan praktikan yaitu dengan mengurangi intensitas membalas SMS, menerima telepon dari kakak sang pacar, dan meningkatkan intensitas komunikasi dengan pacarnya. Pilihan ini dipilih klien dengan pertimbangan sangat mungkin dilakukan oleh klien saat ini dan tidak menyinggung perasaan kedua belah pihak.

5.      Kesimpulan
Kesimpulan yang diambil yakni dalam menjalin suatu hubungan sangat diperlukan adanya rasa kesetiaan dan saling menjaga perasaan diantara pasangan. Menjaga sikap setia dan  menjaga perasaan diantara pasangan akan menjaga hubungan yang terjalin antara pasangan kekasih.

C.     Faktor Pendukung dan Faktor Penghambat
1.      Faktor Pendukung
Faktor pendukung pelaksanaan layanan Bimbingan dan Konseling di SMP N 22 Bengkulu adalah :
a.       Tersedianya jam layanan Bimbingan dan Konseling secara klasikal yang diatur dalam jadwal pelajaran setiap kelas.
b.      Siswa SMP Negeri 22 Kota Bengkulu telah terbiasa menerima layanan Bimbingan dan Konseling yang membuat mereka tidak lagi merasa asing dengan layanan BK yang diberikan oleh praktikan.
c.       Para siswa terbuka dan mau menyampaikan permasalahan yang mereka alami dalam kegiatan layanan BK.
d.      Kegaiatan layanan BK yang dijalankan oleh praktikan  mendapatkan dukungan dari para dewan guru dan staff tata usaha yang membuat kegiatan yang dijalankan tidak mengalami hambatan.
2.      Faktor penghambat
Faktor penghambat pelaksanaan layanan Bimbingan dan Konseling di SMP N 22 Bengkulu :
a.       Waktu yang tersedia untuk pelaksanaan layanan BK cukup singkat, yaitu 1 jam pelajaran dengan durasi 40 menit. Waktu yang sangat singkat membuat praktikan kurang bisa menyampaikan materi layanan secara lebih luas dan mendengarkan pendapat dari siswa lebih banyak.
b.      Ruangan BK yang tersedia di SMP N 22 Bengkulu kurang bisa difungsikan dengan baik, hal ini menyebabkan praktikan kurang bisa melaksanakan kegiatan layanan non-klasikal dengan maksimal.

D.    Refleksi
Setelah selesai kegiatan observasi atau pengenalan lapangan maka memasuki tahap pelatihan dasar mengajar secara terbimbing yang dimulai tanggal  13 Oktober 2014 sampai 14 November 2011  pada tahap ini praktikan berlatih mengintegrasikan berbagai kemampuan layanan bimbingan dan konseling secara utuh di kelas di bawah bimbingan guru pamong dan dosen pembimbing dengan pendekatan supervisi klinis. Kemampuan keguruan yang seharusnya dipraktikkan di kelas adalah keterampilan dasar mengajar yang telah didapat praktikan pada perkuliahan Pengajaran Psikologi dan BK (PPL-1). Keterampilan dasar mengajar tersebut meliputi:
1.      Keterampilan bertanya dasar dan bertanya lanjut
2.      Keterampilan memberikan penguatan
3.      Keterampilan memberikan variasi
4.      Keterampilan menjelaskan
5.      Keterampilan membuka dan menutup pemberian materi
6.      Keterampilan dalam membimbing bimbingan kelompok dan konseling kelompok
7.      Keterampilan mengelola kelas
8.      Keterampilan mengajar kelompok kecil dan perorangan (bimbingan kelompok, konseling kelompok, dan konseling individual).
Pada saat pelatihan mengajar terbimbing ini guru pamong memberikan kesempatan kepada praktikan untuk menerapkan langsung dengan memberikan layanan bimbingan dan konseling di kelas maupun di luar kelas.
Setelah memberikan layanan bimbingan dan konseling praktikan melakukan bimbingan dengan guru pamong mengenai cara memberikan layanan BK /mengajar praktikan termasuk hal-hal yang perlu diperbaiki atau ditingkatkan pada saat memberikan layanan. Materi bimbingan ini difokuskan pada : persiapan mengajar, penerapan keterampilan dasar mengajar secara terintegrasi dalam latar ilmiah dan bervariasi, dan pengelolaan proses belajar mengajar (kaitannya dengan pengelolaan kelas) dan dampaknya terhadap siswa. Selain itu pada tahap pelatihan mengajar terbimbing ini Guru Pamong akan melatih praktikan dalam membuat Program tahunan, Program semesteran, Program bulanan, Program mingguan, Rencana Pelaksanaan Layanan, dan Rencana Pelaksanaa Kegiatan Pendukung. Adapun dosen Pembimbing Lapangan Mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling  2014/2015 di SMP Negeri 22 Kota Bengkulu yaitu bapak Dr. Hadiwanrto, M.Psi. Sedangkan guru pamong adalah Ibu Lindawati, S.E.

1)      Refleksi Mengajar / Pemberian Layanan BK Terbimbing
Pada pelaksanaan keterampilan mengentaskan masalah, praktikan dapat mengamati secara langsung bagaimana guru BK yang berkaitan dengan pengentasan masalah yang berkenaan dengan layanan BK. Dalam hal ini guru yang diamati ialah guru pamong. Kegiatan ini dilaksanakn pada waktu observasi-orientasi pengentasan masalah siswa baik dikelas maupun di ruang BK. Dari kegiatan ini praktikan mendapat wawasan yang berarti dan dapat mengetahui bagaimana cara memberian layanan BK yang baik. Setelah mengamati guru pamong memberikan layanan, praktikan mulai melakukan pemberian layanan secara terbimbing, ini dimaksudkan untuk melatih praktikan dalam menerapkan keterampilan dasar mengajar yang didapat dari sekolah.
Pada pelaksanaan pemberian layanan secara terbimbing yang dilakukan praktikan guru pamong akan mendampingi setiap kali praktikan memberikan layanan, dan setelah mengajar ataupun pemberian layanan dilakukan diskusi/bimbingan antara praktikan dan guru pamong berkaitan dengan kegiatan pemberian layanan yang dilakukan oleh praktikan. Melalui bimbingan ini guru pamong selalu memberikan masukan-masukan kepada praktikan tentang hal-hal yang perlu diperbaiki. Adanya bimbingan ini sangat bermanfaat bagi praktikan karena dengan adanya masukan-masukan/solusi pemecahan masalah yang sering dihadapi praktikan dapat memberikan perbaikan dalam mengajar ataupun pemberian layanan BK sehingga praktikan dapat lebih baik lagi.
Pada tahapan pengajaran terbimbing ini setiap kali mengajar ataupun pemberian layanan BK praktikan terlebih dahulu memberikan RPL dan RPK kepada guru pamong. Selama proses pemberian layanan BK berlangsung guru pamong mengamati kesesuaian praktikan mengajar dengan RPL  yang dibuat (ketepatan isi materi, sistematis penyampaian materi, dan ketepatan waktu) .
Pada saat PPL di SMP Negeri 22 Kota Bengkulu, praktikan melaksanakan kegiatan pemberian layanan  di kelas VII B, IX B, IX C, dan IX D.

2)      Mengajar Mandiri Dan Refleksi
Pelatihan mengajar atau pemberian layanan BK secara mandiri dilaksanakan jika praktikan telah dianggap baik dalam pelatihan mengajar/pemberian layanan BK terbimbing. Pelatihan pemberian layanan BK secara mandiri bertujuan agar praktikan dapat berlatih secara mandiri dalam menerapkan dan mengintegrasikan kemampuan keguruan dalam situasi nyata, pengayaan konteks dan mengasah kemampuan refleksi.
Pelatihan dasar mengajar/pemberian layanan BK secara mandiri ini, dimulai tanggal 17 November 2014  s.d  26 Desember 2014  dan khusus bagi praktikan difokuskan pada pemberian secara klasikal di kelas dan non-klasikal di luar kelas.
Tahapan ini merupakan tahapan akhir dalam kegiatan PPL. Dalam tahapan ini praktikan diberi kesempatan berlatih secara mandiri untuk menerapkan secara utuh dan terintegrasi segala kemampuan keguruan dalam situasi nyata di sekolah menengah, pengayaan konteks, dan mengasah kemampuan refleksi. Pada keterampilan dasar mengajar atau pemberian layanan BK secara mandiri praktikan diberi keleluasaan untuk mengembangkan kemampuan seorang guru BK. Praktikan diberi kesempatan penuh untuk melatih secara mandiri dan menginterpretasikan seluruh keterampilan BK yang diperoleh selama pelatihan pemberian layanan BK terbimbing. Praktikan juga diberi kesempatan untuk merencanakan kegiatan belajar atau pemberian layanan BK secara mandiri dan guru pamong memberikan perbaikan-perbaikan jika praktikan menemui kesulitan dalam proses pemberian layanan BK.
Kendala yang dihadapi praktikan adalah keterbatasan waktu yang tersedia untuk jam pelajaran BK yaitu selama 40 menit  untuk melaksanakan pemberian layanan BK yang meliputi Bimbingan Klasikal, Bimbingan Kelompok, Konseling Kelompok ataupun Konseling Individu.  Selain itu kendala yang dihadapi berikutnya adalah tidak tersedianya fasilitas LCD bagi praktikan dalam menyampaikan materi layanan kepada siswa asuh, hal ini membuat praktikan tidak bisa menggunakan media secara maksimal dalam memberikan layanan BK. Masalah paling dominan dialami oleh para siswa asuh yaitu masalah yang berkaitan dengan hubungan sosial di sekolah, masalah kisah-kasih asmara siswa SMP, rendahnya motivasi untuk mengikuti kegiatan belajar, kebingungan dalam menentukan langkah-langkah setelah menamatkan pendidikan di SMP, dan masalah dalam hubungan dengan orangtua di rumah. Pengungkapan masalah siswa menggunakan aplikasi instrumentasi BK yaitu AUM Umum, AUM PTSDL, dan Sosiometeri. Dalam mengatasi permasalahan siswa praktikan memfokuskan pada penggunaan empat layanan BK yaitu Bimbingan klasikal, Bimbingan kelompok, Konseling kelompok, dan Konseling individu.





B.     Kegiatan Non Akademik Dan Refleksi
3.1 Kegiatan Non Akademik
Kegiatan non akademik yang ada di SMP Negeri 22 Kota Bengkulu diantaranya setiap hari  diadakan kegiatan Sholat Dhuha yang dilaksanakan sebelum jam pelajaran dimulai yaitu pukul 07.30 -07.45 WIB. Kegiatan ini bertujuan membina dan meningkatkan iman dan taqwa siswa. Setiap hari Jum’at dilaksanakan kegiatan jalan sehat dan kultum dengan teknis pelaksanaan  bergantian setiap minggunya. Kegiatan non akademik lainnya yaitu kegiatan ekstrakurikuler berupa pramuka, futsal, dan bola volly. Untuk membina kemampuan siswa dalam berorganisasi terdapat wadah OSIS (organisasi siswa intra sekolah) yang dijalankan oleh siswa kelas VII dan VIII.
Kegiatan ekstra kulikuler yang saat ini berjalan aktif di SMP Negeri 22  Bengkulu adalah Pramuka, futsal, dan bola volly.
3.2 Refleksi Kegiatan Non Akademik
 Praktikan melakukan kegiatan-kegiatan non-akademik seperti tugas piket guru, dan piket Ujian Semester. Pembagian waktu tugas piket ini disesuaikan dengan kesepakatan bersama oleh para praktikan PPL. Dalam pembagian tugas piket guru praktikan mendapat tugas giliran piket yaitu pada hari jum’at dari jam 07.30– 11.05 WIB. Tugas guru piket adalah membunyikan bel-bel pada jam-jam tertentu, mengisi jam kosong, memindahkan nama siswa ke buku absen siswa, mengabsen guru yang tidak hadir, menjaga ketertiban dan keamanan sekolah.









Bab 3
Penutup

A.    Kesimpulan
Dalam pelaksanaan Praktik Lapangan Bimbingan dan konseling(PLBK) di SMP NEGERI 22 KOTA BENGKULU yang dilaksanakan dari bulan september 2014 hingga januari 2015, yang diawali dengan pengenalan sekolah (observasi),perencanaaan program,pelaksanaan program,umumnya terlaksana dengan baik meskipun mendapatkan beberapa hambatan dan kekurangan dalam pelaksanaannya.
Sebagian layanan yang dijalankan sebagian hambatan nya antara lain mengenai waktu BK yang  singkat sehingga terkadang harus mengambil sedikit jam mata pelajaran lain.Kegiatan praktik lapangan ini dapat terlaksana dengan baik,bekat adanya kerjasama kepala sekolah,guru pamong,guru pembimbing,wali kelas,guru mata pelajaran,guru piket,TU,serta keikut sertaan siswa dalam pemberian layanan.

B.     Saran
Dalam kesempatan ini,penulis menyaranan kepada jurusan program studi bimbingan konseling di SMP NEGERI 22,untuk menambah jam mata pelajaran BK klasikal serta di adakannya jam terkhusus untuk siswa menceritakan masalahnya (jam konseling) dan menyediakan ruangan BK yang lebih memadai untuk optimalisasi layanan BK.














Daftar Pustaka

Profil  SMPN  22  Kota Bengkulu
Panduan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL 2) Mahasiswa program studi S1 Bimbingan dan Konseling  FKIP UNIVERSITAS BENGGKULU  2014





























Tidak ada komentar:

Posting Komentar