Minggu, 08 Januari 2012

bidang-bidang bk

Bidang-Bidang Bimbingan dan Konseling
            Secara umum tujuan bimbingan dan konseling adalah berupaya membantu siswa menemukan pribadinya , dalam hal menemukan kekuatan dan kelemahan darinya serta hal positif dan negatif yang terkandung dalam dirinya. Bimbingan dan konseling juga membantu siswa dalam mengenali lingkungannya baik lingkungan rumah , keluarga , masyarakat , sekolah , dan lingkungan pertemanan agar individu dapat mengembangkan dirinya secara mantap dan berkelanjutan dengan memanfaatkan semaksimal mungkin lingkungannya. Bimbingan juga membantu individu dalam merencanakan masa depannya dengan membantu mereka membuat beberapa pilihan rencana kehidupan , kelanjutan kariernya , dan juga pilihan kelanjutan studi yang tepat bagi mereka setelah mereka menyelesaikan lanjutan pendidikan mereka.
            Untuk menangani hal-hal tersebut maka isi dalam layanan bimbingan dan konseling harus disesuaikan dengan kebutuhan siswa yang dibimbing. Adapun bidang-bidang dalam pelayanan bimbingan dan konseling adalah :
1.Bidang bimbingan pribadi dan sosial
            Bimbingan pribadi membantu siswa dalam menjadi pribadi yang bertakwa dan beriman kepada tuhan yang maha esa dengan menjauhi larangan dan menjalankan perintahnya. Bimbingan pribadi juga membantu individu dengan segala aktivitasnya dengan menjalankan segala aktivitas sehari-hari dengan memperhatikan aspek rohani dan jasmani. Selain itu bimbingan pribadi juga membantu siswa dalam mengembangkan dirinya , memahami dirinya dan meningktkan kompetensinya agar menjadi individu yang diinginkan masyarakatnya.
            Inti dari pengertian bimbingan sosial  yang dikemukakan oleh Abu Ahmadi adalah, bahwa bimbingan pribadi-sosial diberikan kepada individu, agar mampu menghadapi dan memecahkan permasalahan pribadi-sosialnya secara mandiri. Hal senada juga diungkapkan oleh Syamsu Yusuf (2005: 11) yang mengungkapkan bahwa bimbingan pribadi-sosial adalah bimbingan untuk membantu para individu dalam memecahkan masalah-masalah sosial-pribadi.
            Bimbingan sosial membantu siswa dalam dalam berhubungan dengan masyarakat di lingkungannya dengan berdasarkan budi pekerti yang luhur , tanggung jawab kemanusiaan , sopan santun yang ada dalam masyarakat , dilandasi oleh rasa kebangsaan yang tinggi serta diiringi dengan adanya rasa toleransi , tenggang rasa , tidak mau menang sendiri , dan juga rasa memberi dan menerima di tengah lingkungan yang memiliki banyak perbedaan. Selain itu bimbingan sosial juga membantu mengembangkan kemampuan berkomunikasi yang efektif ditengah masyarakat yang luas.
            Kedua bidang ini dapat dirincikan sebagai berikut:
a.      Pemantapan sikap dan kebiasaan serta pengembangan wawasan yang beriman terhadap tuhan yang maha esa. Cara pengembangan wawasan tersebut adalah dengan mempelajari agama dengan benar serta menjalankan ritual agama sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing individu.
b.      Pemantapan pemahaman tentang kekuatan diri dan pengembangannya untuk kegiatan-kegiatan yang kreatif , liar , dan produktif baik dalam kehidupan mereka sehari-hari maupun dalam kehidupan mereka bermasyarakat.
c.       Pemantapan tentang pengenalan kelemahan diri yang ada pada seorang individu dan membantu mereka mencari penanggulangan kelemahan diri mereka tersebut agar mereka tidak menjadi depresi atas kelemahan yang dimiliki.
d.      Pemantapan kemampuan individu untuk mengambil keputusan , agar mereka terlatih ketika berada di lingkungan kerja , keluarga , dan masyarakat untuk mengambil keputusan yang tepat , strategis , dan mampu membawa keuntungan dari keputusan tersebut.
e.      Pemantapan kemampuan pengembangan diri berdasarkan keputusan yang telah diambil.
f.        Pemantapan dalam penyelenggaraan kehidupan yang sehat , baik secara jasmaniah maupun rohaniah
g.      Pemantapan kemampuan berkomunikasi baik secara efektif , baik melalui lisan maupun tulis. Sebab dengan kemampuan komunikasi yang efektif maka seorang individu dapat menyampaikan gagasan dan pikirannya kepada orang lain
h.      Pemantapan kemampuan menerima dan menyampaikan gagasan secara argumentasi dengan cara yang dinamis , kreatif , efektif , dan produktif agar mudah dimengerti oleh orang yang mendengar.
i.        Pemantapan kemampuan bertingkah laku dan berhubungan sosial baik di rumah , sekolah , maupun masyarakat luas dengan sangat menjunjung tinggi nilai tata krama , sopan-santun , nilai-nilai agama , adat , hukum , ilmu , dan kebiasaan yang berlaku ditengah masyarakat.
j.        Pemantapan hubungan yang harmonis antar masyarakat yang dinamis , harmonis , dan produktif baik dengan teman sebaya di sekolah yang sama atau yang berbeda , dengan individu yang lebih tua dan lebih muda di lingkungan masyarakat dan keluarga.
k.       Pemantapan pemahaman kondisi sekolah dan peraturan yang ada di sekolah tersebut agar para siswa terutama siswa baru tidak terkejut dengan kondisi yang ada di sekolah dan peraturan yang harus mereka patuhi di sekolah tersebut dan menjalankannya secara efektif dan dinamis serta bertanggung jawab.
l.        Orientasi tentang kehidupan berkeluarga.

Dalam bidang bimbingan pribadi , pelayanan bimbingan dan konseling membantu siswa menemukan dan mengembangkan pribadi yang beriman dan bertakwa terhadap tuhan yang maha esa , mantap , mandiri , serta sehat jasmani dan rohani. Bidang ini dirincikan sebagai berikut.:
a.      Pengembangan sikap dan wawasan pribadi terhadap melalui sikap dan kebiasaan yang menunjukkan ketakwaan terhadap tuhan yang maha esa
b.      Pemantapan pemahaman tentang kekuatan diri dan pengembangannya untuk kegiatan yang kreatif dan produktif baik dalam kehidupan sehari-hari maupun untuk peranannya di tengah masyarakat.
c.       Pemantapan pemahaman tentang bakat dan minat yang dimiliki individu tersebut dan bagaimana cara konselor untuk menyalurkan bakat anak tersebut agar tidak salah tersalurkan.
d.      Pemantapan tentang bagaimana anak tersebut memahami kekurangan dirinya dan bagaimana ia dapat mengatasi kekurangan dirinya
e.      Pemantapan kemampuan pengambilan keputusan bagi anak didik
f.        Pemantapan dalam menjalankan pilihan hidup

Menurut Abu ahmadi (1977) bimbingan sosial dimaksudkan untuk :
a.      Memperoleh kelompok belajar dan bermain yang sesuai
b.      Membantu memperoleh persahabatan yang sesuai
c.       Membantu mendapatkan kelompok sosial untuk menyelesaikan masalah tertentu



























2. Bimbingan belajar
            Bimbingan belajar adalah bimbingan yang dimaksudkan untuk mengatasi masalah yang berhubungan dengan masalah yang berkaitan dengan aktivitas belajar di sekolah maupun di luar sekolah. Bimbingan belajar dapat membantu murid menemukan cara belajar yang tepat , program studi yang sesuai , dan mengatasi kesukaran yang timbul saat murid mengikuti pelajaran di kelas. Bimbingan belajar timbul karena pada saat ini kegiatan pembelajaran semakin kompleks baik dalam tingkatan program studi maupun materi yang diajarkan. Bimbingan karir meliputi hal-hal sebagai berikut :
1.      Cara belajar , baik kelompok atau individu
2.      Cara bagaimana menjalankan waktu dan kegiatan belajar
3.      Efisiensi dalam memakai buku-buku pelajaran
4.      Cara mengatasi kesulitan yang berkaitan dengan mata pelajaran tertentu
5.      Cara , proses , dan prosedur mengikuti pelajaran di dalam kelas
Dalam bidang bimbingan belajar , terdapat beberapa orientasi yang harus ada dalam program bimbingan. Orientasi itu antara lain :
1.      Orientasi kepada siswa baru tentang tujuan instruksional  , kurikulum , struktur jabatan sekolah , dan cara belajar yang tepat
2.      Penyadaran kembali mengenai cara belajar yang tepat selama mengikuti pelajaran di sekolah dan selama belajar di sekolah dan di rumah
3.      Bantuan memilih program studi yang sesuai , kegiatan non-akademik yang menunjang prestasi akademik , dan kelanjutan program studi pada tingkat yang lebih tinggi.

Bidang-bidang bimbingan belajar dapat dirincikan ke dalam kelompok-kelompok berikut :
a.      Pemantapan sikap dan kebiasaan belajar yang efektif dan efisien serta produktif dalam mengikuti kegiatan belajar , mencari bahan sumber referensi belajar , bersikap terhadap guru , mengerjakan tugas yang diberikan , mengembangkan keterampilan , dan pelaksanaan penilaian.
b.      Pemantapan tentang sistem belajar yang dipilih oleh anak murid dan mendorong mereka untuk berlatih mengerjakan soal-soal mata pelajaran secara mandiri di rumah.
c.       Pemantapan bagi penguasaan materi di sekolah. Materi di sekolah pada saat ini harus mengacu kepada perkembangan ilmu , teknologi , dan kesenian
d.      Pemantapan pemahaman tentang kondisi fisik masyarakat , sosial , budaya , yang ada di lingkungan sekitar dan masyarakat untuk membantu pengembangan pengetahuan dan keterampilan ilmiahnya serta mampu mengembangkan diri di tengah lingkungan masyarakat.
e.      Orientasi belajar di perguruan tinggi

Dalam kenyataannya untuk melaksanakan bimbingan belajar di indonesia masih sangat susah hal ini dikarenakan :
1.pendidikan di indonesia masih dalam tahap perkembangan
            Pendidikan di Indonesia masih berada pada tahap perkembangan karena indonesia masih terus mengikuti sarana pembelajaran di eropa. Akibat yang dimbul adalah sering terjadi ketidaksesuaian anak dengan materi yang dibahas oleh guru mereka. Hal ini semakin ditunjang dengan seringnya terjadi perubahan kurikulum di Indonesia , terutama setelah era reformasi bergulir di indonesia. Perubahan kurikulum itu membuat program BK yang mengurus masalah bimbingan belajar berjalan dengan kurang optimal sebab sering terjadi perubahan komposisi mengajar dan program bk kadang diizinkan masuk kelas kadang tidak sehingga membuat bimbingan belajar sulit dilaksanakan.
2.sikap keluarga yang kurang mendukung proses belajar anak
            Sikap keluarga ini terjadi karena kegiatan belajar yang ditempuh oleh anak , tidak sesuai dengan keinginan mereka. Kasus seperti ini banyak terjadi terutama pada orang tua yang tingkat pendidikannya rendah dan kurang mengerti akan pentingnya pengelompokan pendidikan. Mereka biasanya akan terfokus pada suatu pendidikan tertentu , sebagai contoh orang tua yang menginginkan anaknya melanjutkan studi dibidang kesehatan , sementara anaknya tidak berminat dan ketika ia memilih untuk masuk ke  jurusan IPS yang tidak memiliki kaitan dengan kesehatan , maka orang tua mereka menjadi marah dan tidak mau tahu lagi terhadap pendidikan anak tersebut dan tidak mau datang saat guru BK memanggilnya untuk proses kegiatan bimbingan belajar anaknya.
3.sikap siswa yang tidak bisa mengatur dirinya sendiri
            Sikap ini adalah sikap yang ditunjukkan oleh siswa yang tidak memiliki minat yang tinggi dan tujuan yang pasti akan jalan hidupnya. Mereka biasanya hanya ikut-ikutan dalam melanjutkan studi mereka. Para siswa ini memandang pendidikan hanya sebagai pengganti aktifitas mereka yang kosong dirumah dan agar mereka tidak disebut penganggur dirumah. Siswa dengan tipe seperti ini biasanya akan memilih pendidikan yang cepat , mudah , persaingan yang tidak ketat , dan cepat meluluskan mereka tanpa memperdulikan ilmu dan keterampilan yang mereka peroleh selama mengikuti pendidikan tersebut.
4.sekolah yang kurang menegakkan disiplin
            Ada beberapa sekolah yang hanya mengejar prestise (gengsi) pada setiap proses pembelajarannya , sehingga sekolah tidak terlalu memperhatikan disiplin anak murid mereka tetapi lebih fokus pada aspek fisik saja.
            Dalam menghadapi situasi seperti ini , guru BK harus menunjukkan fleksibilitas yang besar , yang mana disuatu sisi harus memahami keadaan yang terjadi saat ini dan di suatu sisi lagi guru BK harus mampu menyemangati siswa agar tidak menyerah begitu saja pada keadaan yang terjadi.
            Adapun langkah-langkah dalam bimbingan belajar adalah :
1. Identifikasi kasus
Identifikasi kasus merupakan upaya untuk menemukan siswa yang diduga memerlukan layanan bimbingan belajar. Robinson dalam Abin Syamsuddin Makmun (2003) memberikan beberapa pendekatan yang dapat dilakukan untuk mendeteksi siswa yang diduga mebutuhkan layanan bimbingan belajar, yakni :
§  Call them approach; melakukan wawancara dengan memanggil semua siswa secara bergiliran sehingga dengan cara ini akan dapat ditemukan siswa yang benar-benar membutuhkan layanan bimbingan.
§  Maintain good relationship; menciptakan hubungan yang baik, penuh keakraban sehingga tidak terjadi jurang pemisah antara guru dengan siswa. Hal ini dapat dilaksanakan melalui berbagai cara yang tidak hanya terbatas pada hubungan kegiatan belajar mengajar saja, misalnya melalui kegiatan ekstra kurikuler, rekreasi dan situasi-situasi informal lainnya.
§  Developing a desire for counseling; menciptakan suasana yang menimbulkan ke arah penyadaran siswa akan masalah yang dihadapinya. Misalnya dengan cara mendiskusikan dengan siswa yang bersangkutan tentang hasil dari suatu tes, seperti tes inteligensi, tes bakat, dan hasil pengukuran lainnya untuk dianalisis bersama serta diupayakan berbagai tindak lanjutnya.
§  Melakukan analisis terhadap hasil belajar siswa, dengan cara ini bisa diketahui tingkat dan jenis kesulitan atau kegagalan belajar yang dihadapi siswa.
§  Melakukan analisis sosiometris, dengan cara ini dapat ditemukan siswa yang diduga mengalami kesulitan penyesuaian sosial

2. Identifikasi Masalah
Langkah ini merupakan upaya untuk memahami jenis, karakteristik kesulitan atau masalah yang dihadapi siswa. Dalam konteks Proses Belajar Mengajar, permasalahan siswa dapat berkenaan dengan aspek : (a) substansial – material; (b) struktural – fungsional; (c) behavioral; dan atau (d) personality. Untuk mengidentifikasi masalah siswa, Prayitno dkk. telah mengembangkan suatu instrumen untuk melacak masalah siswa, dengan apa yang disebut Alat Ungkap Masalah (AUM). Instrumen ini sangat membantu untuk mendeteksi lokasi kesulitan yang dihadapi siswa, seputar aspek : (a) jasmani dan kesehatan; (b) diri pribadi; (c) hubungan sosial; (d) ekonomi dan keuangan; (e) karier dan pekerjaan; (f) pendidikan dan pelajaran; (g) agama, nilai dan moral; (h) hubungan muda-mudi; (i) keadaan dan hubungan keluarga; dan (j) waktu senggang.
3. Diagnosis
Diagnosis merupakan upaya untuk menemukan faktor-faktor penyebab atau yang melatarbelakangi timbulnya masalah siswa. Dalam konteks Proses Belajar Mengajar faktor-faktor yang penyebab kegagalan belajar siswa, bisa dilihat dari segi input, proses, ataupun out put belajarnya. W.H. Burton membagi ke dalam dua bagian faktor – faktor yang mungkin dapat menimbulkan kesulitan atau kegagalan belajar siswa, yaitu : (a) faktor internal; faktor yang besumber dari dalam diri siswa itu sendiri, seperti : kondisi jasmani dan kesehatan, kecerdasan, bakat, kepribadian, emosi, sikap serta kondisi-kondisi psikis lainnya; dan (b) faktor eksternal, seperti : lingkungan rumah, lingkungan sekolah termasuk didalamnya faktor guru dan lingkungan sosial dan sejenisnya.
4. Prognosis
Langkah ini untuk memperkirakan apakah masalah yang dialami siswa masih mungkin untuk diatasi serta menentukan berbagai alternatif pemecahannya, Hal ini dilakukan dengan cara mengintegrasikan dan menginterpretasikan hasil-hasil langkah kedua dan ketiga. Proses mengambil keputusan pada tahap ini seyogyanya terlebih dahulu dilaksanakan konferensi kasus, dengan melibatkan pihak-pihak yang kompeten untuk diminta bekerja sama menangani kasus – kasus yang dihadapi.
5. Remedial atau referal (Alih Tangan Kasus)
Jika jenis dan sifat serta sumber permasalahannya masih berkaitan dengan sistem pembelajaran dan masih masih berada dalam kesanggupan dan kemampuan guru atau guru pembimbing, pemberian bantuan bimbingan dapat dilakukan oleh guru atau guru pembimbing itu sendiri. Namun, jika permasalahannya menyangkut aspek-aspek kepribadian yang lebih mendalam dan lebih luas maka selayaknya tugas guru atau guru pembimbing sebatas hanya membuat rekomendasi kepada ahli yang lebih kompeten.
6. Evaluasi dan Follow Up
Cara manapun yang ditempuh, evaluasi atas usaha pemecahan masalah seyogyanya dilakukan evaluasi dan tindak lanjut, untuk melihat seberapa pengaruh tindakan bantuan (treatment) yang telah diberikan terhadap pemecahan masalah yang dihadapi siswa.
Berkenaan dengan evaluasi bimbingan, Depdiknas telah memberikan kriteria-kriteria keberhasilan layanan bimbingan belajar, yaitu :
§  Berkembangnya pemahaman baru yang diperoleh siswa berkaitan dengan masalah yang dibahas;
§  Perasaan positif sebagai dampak dari proses dan materi yang dibawakan melalui layanan, dan
§  Rencana kegiatan yang akan dilaksanakan oleh siswa sesudah pelaksanaan layanan dalam rangka mewujudkan upaya lebih lanjut pengentasan masalah yang dialaminya.
Sementara itu, Robinson dalam Abin Syamsuddin Makmun (2003) mengemukakan beberapa kriteria dari keberhasilan dan efektivitas layanan yang telah diberikan, yaitu apabila:
§  Siswa telah menyadari (to be aware of) atas adanya masalah yang dihadapi.
§  Siswa telah memahami (self insight) permasalahan yang dihadapi.
§  Siswa telah mulai menunjukkan kesediaan untuk menerima kenyataan diri dan masalahnya secara obyektif (self acceptance).
§  Siswa telah menurun ketegangan emosinya (emotion stress release).
§  Siswa telah menurun penentangan terhadap lingkungannya
§  Siswa mulai menunjukkan kemampuannya dalam mempertimbangkan, mengadakan pilihan dan mengambil keputusan secara sehat dan rasional.
§  Siswa telah menunjukkan kemampuan melakukan usaha –usaha perbaikan dan penyesuaian diri terhadap lingkungannya, sesuai dengan dasar pertimbangan dan keputusan yang telah diambilnya
C. Bimbingan karier
            Bimbingan karier adalah bimbingan dalam mempersiapkan diri menghadapi dunia pekerjaan , dalam memilih pekerjaan atau jabatan serta membekali diri mereka dalam memangku suatu jabatan yang akan diembannya. Untuk dalam lingkungan sekolah bimbingan karir dapat dilakukan dengan cara bicara dua arah antara Konselor dengan muridnya mengenai cita-cita yang diinginkannya beserta kendala yang dihadapi siswa tersebut dalam mewujudkan impiannya meraih karir yang diinginkan. Bimbingan karier ini muncul karena di zaman modern ini memilih suatu pekerjaan merupakan hal yang sangat sulit , sebab di zaman dahulu memilih pekerjaan bagi kaum muda hanya mengikuti pekerjaan yang diwarisi orang tuanya tanpa memikirkan kemampuan dirinya untuk mengerjakan pekerjaan tersebut. Di era modern ini orang tua sudah tidak bisa mendampingi persiapan anak dalam memangku suatu jabatan , sehingga peran guru pembimbing sangat menentukan kesiapan anak dalam memasuki lapangan kerja. Bimbingan karir sendiri bukan hanya sekedar memberikan bimbingan mengenai pekerjaan tetapi juga suatu tatanan , tata hidup baru , peraturan , nilai dan norma yang berlaku di lingkungan kerja yang mana sangat berbeda dengan suasana selama menuntut ilmu di bangku sekolah.
            Pendidikan Kecakapan Hidup (Life Skill Education) dalam kurikulum sekolah, maka peranan bimbingan karier sungguh menjadi amat penting, khususnya dalam upaya membantu siswa dalam memperoleh kecakapan vokasional (vocational skill), yang merupakan salah jenis kecakapan dalam Pendidikan Kecakapan Hidup (Life Skill Education).
            Bimbingan karir memberikan gambaran mengenai baik buruknya suatu pekerjaan , waktu bekerja apakah full time atau part time , dan juga apakah setamat SMA baiknya langsung bekerja atau melanjutkan kuliah di perguruan tinggi. Pada siswa sendiri mereka biasanya memiliki gambaran mengenai pekerjaan pada saat mereka masih kecil hingga fokus sampai mereka menyelesaikan sekolah tingkat atas , atau mereka yang baru memiliki gambaran karier setelah mereka duduk di bangku SLTA. Guru pembimbing dalam membimbing masalah karier siswa harus memperhatikan nilai-nilai kehidupan individu yang dibimbing , cita-citanya , minat , kemampuan individu , bakat khusus , sifat kepribadian , harapan keluarga , prospek masa depan pekerjaan yang sedang ditinjau , tuntutan-tuntutan yang terkandung dalam suatu jabatan atau profesi , pasaran kerja , dan program studi akademik. Semua aspek tersebut harus diperhatikan agar pembimbing tidak melakukan kesalahan ketika membimbing karier anak. Keputusan terakhir dalam bimbingan karir harus diserahkan kepada anak  , sebab tugas pembimbing hanya memberikan saran dan masukan bukan menentukan kelanjutan karier anak. Adapun pokok-pokok dalam bimbingan karier adalah :
a.      Pemantapan pemahaman diri akan karier yang akan karier yang ingin dikembangkan dengan melihat potensi-potensi yang ada
b.      Pemantapan orientasi karier , terutama pada karier yang ingin dikembangkan
c.       Orientasi dan informasi terhadap dunia kerja harus diperluas , dengan mencari referensi dari berbagai sumber.
d.      Pemilihan yang mantap akan pekerjaan , sebab pekerjaan itulah yang akan menjadi sumber nafkah
e.      Orientasi dan informasi terhadap pendidikan yang lebih tinggi , khususnya pada karier yang ingin dikembangkan oleh individu.














BIDANG-BIDANG
BIMBINGAN DAN KONSELING

Disusun oleh:
Nama:Reno Agung Laksono
NPM: A1L011010
Prodi:  S1 Bimbingan Konseling
Mata kuliah: Wawasan Dasar BK
Dosen pengampu: Dra. ILLAWATY SULLIAN ,M.Pd

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL
UNIVERSITAS BENGKULU
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

           
           


Selasa, 27 Desember 2011

belajar

Belajar
A.Pengertian Belajar
Belajar merupakan aktivitas yang sangat penting bagi kehidupan manusia , sebab dengan belajar manusia menjadi tahu apa yang tidak yang dia ketahui. Belajar sendiri memiliki banyak pengertian yang dirumuskan oleh bebrapa tokoh pendidikan. Tokoh-tokoh tersebut antara lain:
1.Ernest e hilgard
            Belajar adalah proses yang dilakukan dengan sengaja untuk menimbulkan perubahan yang mana perubahan itu berbeda dari perubahan lainnya yang ditimbulkan.
2.Gagne
            Belajar adalah proses perubahan tingkah laku , yang mana perubahan tingkah laku tersebut berbeda dari sebelum orang tersebut mengikuti kegiatan belajar dan sesudah orang tersebut mengikuti kegiatan belajar dan perubahan itu berlangsung permanen.
3.Muhammad surya
            Belajar adalah suatu proses yang dilakukan individu untuk mengubah tingkah laku secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman interaksi antara individu tersebut dengan lingkungannya.
           
Dari semua pengertian tersebut , dapat dikemukakan beberapa hal mengenai belajar. Beberapa hal mengenai belajar tersebut antara lain:
1.      Belajar merupakan suatu proses yang mengakibatakan perilaku. Sehabis belajar individu mengalami perubahan pada tingkah lakunya.
2.      Perubahan yang terjadi itu bersifat aktual yang mana muncul pada saat itu juga dan potensial yang mana perubahan itu tidak tampak pada saat itu , akan tetapi muncul pada saat yang tepat.
3.      Perubahan yang terjadi akibat belajar relatif permanen , yaitu bertahan dalam jangka waktu yang lama. Perubahan itu tidak akan menetap terus menerus tetapi suatu saat akan mengalami perubahan lagi akibat dari proses belajar.
4.      Perubahan perilakuyang merupakan hasil belajar melalui banyak pengalaman dan latihan kepada anak.

Belajar sendiri dipandang sebagai suatu sistem sebab didalam kegiatan belajar bekerja tiga  sistem komponen utama yaitu masukan (input) , kemudian proses belajar yang dilakukan di sekolah , dan output (keluaran) yaitu lulusan dari pendidikan tersebut. Semua ini akan saling berinteraksi dalam belajar dan ketiga komponen ini tidak dapat dipisahkan dan berlangsung dalam satu sistem yang sistematis dan tidak dapat dipisahkan antar satu dengan yang lainnya.








B.Teori-teori belajar
            Dalam belajar terdapat banyak teori-teori yang dikemukakan oleh para ahli tentang belajar. Teori-teori tersebut adalah :
1.teori behaviorisme
            Teori behaviourisme adalah teori belajar yang menekankan pada keaktifan guru dalam memberikan materi pelajaran kepada siswa. Teori ini menyatakan bahwa murid hanya menunggu (pasif) terhadap materi yang diberikan oleh guru. Dari teori belajar behaviorisme berkembang beberapa teori yang dikembangkan. Teori-teori itu adalah:
a.teori belajar assosiatif
            teori belajar assosiatif adalah teori belajar yang menekankan pada stimulus atau rangsangan yang diterima oleh anak yang menyebabkan anak tersebut aktif dalam kegiatan pembelajaran.
b.teori belajar fungsionalistik
            teori belajar ini menekankan pada penyiapan sarana-sarana belajar yang dilakukan oleh guru agar kegiatan belajar berjalan dengan baik.

2.Teori gestalt
            Teori belajar gestalt adalah teori belajar yang menekankan pada kegiatan belajar , materi-materi yang diberikan kepada murid harus setapak-setapak agar anak dapat memahami dan menguasai materi dengan pemahaman yang baik. Apabila pembelajaran dilakukan secara sekaligus maka dikhawatirkan anak tersebut tidak dapat menguasai materi secara optimal. Teori belajar gestalt didasari oleh beberapa pandangan/asumsi yaitu:
a)      Perilaku molar hendaknya lebih banyak dipelajari daripada perilaku molecular , perilaku molar adalah perilaku yang berkaitan dengan aktivitas manusia dengan dunia luar sedang perilaku molecular adalah perilaku yang menghubungkan kelenjar otot dengan tubuh yang mengakibatkan keluarnya keringat
b)      Hendaknya mampu membedakan lingkungan geografis dengan lingkungan behavioral , lingkungan geografis adalah lingkungan yang sebenarnya ada dalam pandangan manusia sedang lingkungan behavioral adalah lingkungan yang seolah-olah tampak padahal letaknya sangat jauh
c)      Organisme tidak terangsang terhadap rangsangan yang bersifat sebagian tetapai organisme bereaksi terhadap rangsangan yang bersifat secara keseluruhan.
d)      Pemberian makna pada ransangan yang diterima murid adalah suatu peoses yang dinamis tidak statis.
Penerapan teori gestalt dalam kegiatan pembelajarn , antara lain :
a)      Pengalaman (insight) : yaitu dengan memberikan pengalaman belajar secara langsung kepada murid.
b)      Pembelajaran bermakana : yaitu dalam kegiatan pembelajaran harus memiliki makna yang jelas dan terarah sehingga ketika sedang melakukan pemecahan masalah anak akan dapat mencari inti masalah dengan makna yang tersirat.
c)      Perilaku bertujuan : yaitu proses belajar menghasilkan perilaku anak yang sesuai dengan tujuan pendidikan itu sendiri.
d)      Prinsip ruang hidup : yaitu individu memiliki keterkaitan dengan lingkungan dimana ia berada
e)      Transfer dalam belajar : yaitu pemindahan suatu pola-pola perilaku dalam belajar ke sistem pembelajaran lainnya.

3.Teori Kognitif
            Menurut teori ini kegiatan pembelajaran berpusat pada individu tersebut , namun faktor dari luar tidak dapat diremehkan dan harus diakui. Menurut teori ini kegiatan belajar merupakan interaksi individu dengan lingkungannya dan berlangsung secara terus menerus. Teori kognitif ini melahirkan beberapa teori belajar baru antara lain:
a.teori kohler
            teori ini menekankan penggunaan insting pada pemecahan masalah yang dihadapi oleh seorang anak. Sedangkan kegiatan belajar adalah proses mencoba dan kesalahan.
b.teori piget
            teori ini menyatakan bahwa belajar merupakan proses asimilasi antara individu dengan lingkungannya. Asimilasi adalah suatu proses membaurnya dua satuan atau individu menjadi satu kesatuan baru dengan menghilangkan salah satu unsur dari satuan yang menyatu. Selain itu dalam belajar juga terjadi proses asimilasi yang bertujuan untuk mengembangkan kemampuan intelektual siswa. Belajar sendiri diibaratkan tantangan yang membuat otak semakin terstimulus untuk berpikir. Implikasi teori piget dalam pembelajaran adalah :
·         Belajar dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa , oleh sebab itu guru harus mampu menyesuaikan bahasanya dengan bahasa anak.
·         Anak-anak akan dapat belajar dengan baik , apabila ia berada ditengah lingkungan yang baik. Guru harus mampu mewujudkan lingkungan anak yang baik terutama di sekolah
·         Bahan yang dipelajari anak , diiusahakan teras baru , walaupun sebenarnya tidak baru.
·         Berikan anak peluang agar berkembang sesuai dengan tahap perkembangannya.
·         Di dalam kelas anak diberikan kesempatan berdiskusi dengan teman-temannya dalam kegiatan debat kelas.

4.Teori Konstruksitivisme
            Teori ini menyatakan bahwa pelajar membangun sendiri pengetahuan yang diketahuinya. Para siswa dituntut untuk mencari sendiri bahan-bahan belajarnya , menerapakan strategi belajar secara mandiri , dan mampu aktif dan memahami serta memecahkan masalah secara mandiri. Sedang guru berdintak sebagai fasilitator yang memfasilitasi siswa dalam belajar.

5.Teori Cara belajar siswa aktif (CBSA)
            Teori ini dikemukakan pada tahun 1981 dan menjadi dasar dari pelaksanaan kurikulum tahun 1984. Cbsa menekankan pada keaktifan siswa secara psikologis terhadap proses pembelajaran. Bentuk keterlibatan psikologis dalam belajar yaitu dengan aktif bertanya , mengemukakan pendapat dalam diskusi , rajin mencari bahan pelajaran. Jadi Cbsa bukan hanya menekankan pada guru hanya diam atau murid yang bekerja sendiri sedang guru pergi ke luar kelas. Adapun Cbsa adalah pembelajaran yang menekankan pada komunikasi yang efektif.

6.Keterampilan proses
            Yaitu keterampilan yang berkaitan dengan bagaimana cara guru tersebut mengajar dan memberikan penilaian. Pada teori belajar ini hasil akhir dari pekerjaan siswa kurang diperhatikan namun yang paling diperhatikan dalam teori belajar ini adalah proses yang ditempuh oleh siswa tersebut , bukan hasil akhir dari pekerjaan.

7.Pembelajaran sosial
            Pada teori belajar ini , pembelajaran dilakukan secara bersama dengan bergotong royong , maksudnya para siswa saling bantu-membantu dalam pembelajaran. Siswa yang memiliki kemampuan lebih dalam satu bidang membantu siswa lainnya begitu juga sebaliknya. Namun , penekanan belajar secara sosial tidak berlaku pada saat ujian sebab dalam ujian bertujuan untuk mengukur kemampuan individu siswa.

8.CTL (contekstual teaching and learning)
            Pada teori belajar ini menekankan pembelajaran yang sesuai dengan konteks namun murid tetap diberikan kesempatan untuk mencari sendiri sumber bahan belajarnya asal tidak menyimpang diluar konteks pembelajaran. Konteks-konteks pembelajaran itu antara lain : konteks siswa ( usia , kondisi ekonomi , potensi yang dimiliki) , konteks isi (materi pelajaran) , konteks tujuan (tujuan belajar , kemampuan yang ingin dicapai) , konteks budaya , dan konteks lingkungan sosial ekonomi. Untuk pembelajaran harus diikuti oleh beberapa unsur yaitu inkuiri , pernyataan , penemuan , dan pengalaman

9.pendekatan komunikatif
            Pada pendekatan ini siswa dituntut untuk (i) mampu berbicara dengan baik tanpa beban (ii) siswa mampu mengkomunikasikan gagasannya pada orang lain (iii) guru tidak boleh memotong atau menginterupsi apa yang dikatakan siswa terutama saat mereka menyampaikan gagasannya sebab akan membuat mereka menjadi patah semangat dan tidak mau lagi menyampaikan pendapat. Konsep pendekatan komunikatif ini sejalan dengan konsep pragmatik.

10. pendekatan tematik-integratif
            Pendekatan ini menekankan pada penguasaan materi dan sub tema bagi murid. Dalam penyampaian materi hendaknya tidak berdiri sendiri melainkan berhubungan dengan materi sebelumnya dan berhubungan juga dengan pelajaran lainnya.

11. teori pemrosesan informasi
            Teori ini menyatakan bahwa kegiatan belajar merupakan proses penerimaan informasi yang kemudian dikeluarakan dalam bentuk hasil belajar. Dalam pemrosesan itu terjadi komunikasi antara faktor-faktor internal , yaitu faktor dari dalam diri individu dengan faktor-faktor eksternal yaitu faktor yang datang dari luar individu.
            Proses pembelajaran sendiri terbagi ke dalam delapan fase , yaitu : motivasi , pemahaman , pemrolehan , penyimpanan , pengingatan kembali , proses generalisasi , perlakuan , dan umpan balik.

12. teori social learning
            Dikemukakan oleh Albert Bandura yang menyatakan bahwa proses belajar merupakan interaksi antar manusia dengan lingkungannya dimana manusia melihat apa yang terjadi dilingkungannya , dan juga menerapkannya secara langsung dalam kehidupannya.

C. Strategi pembelajaran
            Menurut Raka joni (1984) , strategi atau model mengajar adalah perbuatan guru-murid dalam kegiatan belajar mengajar. Sifat umum dari pola perilaku ini adalah bagaimana perbuatan , tingkah laku , dan segala yang ada dalam proses belajar mengajar yang ada dalam kegiatan belajar mengajar di kelas. Adapun dasar dari penggolongan strategi pembelajaran adalah :
1.pengaturan guru-siswa
            Dari pengaturan guru , yaitu apabila pengajaran dilaksanakan oleeh guru atau tim pengajar. Kegiatan belajar dengan tatap muka atau dengan menggunakan media pembelajaran.

2.struktur peristiwa belajar-mengajar
            Dari sudut struktur ini dapat dibedakan strategi pembelajaran tertutup, dalam arti segala sesuatunya telah ditentukan secara relatif ketat dalam rancangan pembelajaran, dan strategi yang relatif terbuka. Dalam hal ini tujuan khusus (kompetensi yang hendak dicapai) dan bahan ajar serta prosedur yang akan ditempuh untuk mencapai tujuan itu ditentukan ketika proses belajar-mengajar berlangsung. Dalam model kedua itu peranan siswa bisa teramat besar. Penjelasan agak terperinci tentang pembelajaran inkuiri akan disajikan kemudian.

3.peran pembelajar-pebelajar dalam proses belajar
            Dalam proses pembelajaran , selalu terdapat pesan yang akan disampaikan dalam kegiatan atau proses pembelajaran. Dalam penyampaian pesan pelajaran disampaikan dengan cara ekspasitoris atau heuristik atau hipotesis , yaitu guru telah menyiapkan sendiri materi yang akan diajarkan kepada murid-murid nya sedang strategi heuristik yaitu penyiapan materi dilakukan sebanyak mungkin oleh siswa dan guru hanya sedikit memberikan bantuan kepada siswa ketika mereka tidak mampu mengerti dan memahami materi yang mereka dapat. Metode heuristik sendiri terbagi dalam penemuan dan masukan (inquiri).

4.proses pengolahan pesan
            Yaitu bagaimana anak tersebut mengolah apa yang telah didapatnya dari guru. Pengolahan pesan oleh anak dilakukan secara induktif yaitu deduktif yang berlangsung dari hal yang umum ke khusus dan induktif yang bergerak dari hal yang khusus ke umum.

5.strategi belajar inkuiri
            Yaitu strategi belajar yang dirumuskan oleh Bruner (1966) yang menyatakan bahwa pengajaran yang bersifat ceramah yang menerangkan materi , hukum-hukum , dan asas-asas suatu pelajaran yang mana pasti akan membosankan bagi siswa mendengar guru berceramah. Kegiatan belajar yang baik adalah kegiatan belajar yang berpusat pada siswa dan siswa dituntut untuk aktif dalam mengungkapkan pemikiran dan gagasannya dan melontarkan pertanyaan kepada gurunya jika mereka tidak mengerti akan suatu materi.

6.strategi belajar berbasis masalah
            Yaitu strategi belajar yang memusatkan siswa pada suatu permasalahan , strategi belajar berbasis masalah juga disebut sebagai pembelajaran berbasis proyek , pendidikan berbasis pengalaman , dan pembelajaran bersifat autentik.
            Salah satu ciri pembelajaran berbasis masalah adalah masalah tersebut dirumuskan dalam bentuk pertanyaan yang memerlukan penjabaran dan analisis mengenai cara menyelesaikan masalah tersebut. Dengan pembelajaran berbasis masalah akan membantu anak dalam menggunakan akal dan nalarnya dalam menyelesaikan permasalahan yang diajukan sehingga mereka terlatih untuk menyelesaikan masalah yang ada sebenarnya di lingkungan mereka , sehingga mereka memiliki beberapa keterampilan untuk hidup dalam lingkungannya.

C. cara memilih strategi
            Adapun cara memilih strategi yang tepat pada pembelajaran yaitu , seorang guru dapat memilih strategi dengan memperhatikan situasi belajar yang dihadapi oleh guru tersebut. Jika ia menghadapi lingkungan belajar yang berada di lingkungan perkotaan yang memiliki fasilitas belajar yang lengkap dan sarana yang memadai maka dapat diterapkan strategi belajar yang aktif dan mengusahakan agar siswanya seaktif mungkin dalam kegiatan belajar , sedang apabila kita berada di wilayah yang memiliki fasilitas yang kurang dan pembangunan pendidikannya lambat , maka dapat Strategi belajar yang bis diterpakan yaitu guru harus seaktif mungkin memberikan materi kepada siswa , sehingga siswa menjadi paham dan mengerti akan materi yang diajarkan oleh guru tersebut.

D. Faktor-faktor dalam belajar
1. Faktor dari dalam
            Adapun faktor dari dalam yang mempengaruhi kegiatan belajar adalah :
a.kesehatan
            apabila kesehatan anak tersebut terganggu dan ia memiliki penyakit seperti sakit kepala , perut , filek dan sebagainya maka anak tersebut akan mengalami kesulitan dalam berpikir sehingga membuat semangat belajarnya menurun dan secara psikologis pikirannya untuk belajar akan menurun.
b.intelegensi
            faktor intelegensi memiliki faktor yang sangat besar terhadap kegiatan belajar anak. Menurut gardner dalam teori multiple intelegency , intelegensi memiliki tujuh dimensi yaitu linguistik , musik , matematik logis , visual spesik , dan kinastetik.
c. minat dan motivasi
            minat dan motivasi terhadap sesuatu terutama belajar akan membuat belajar semakin mudah dan jadi lebih mudah dalam memahami ilmu pengetahuan.motivasi pada anak bisa datang dari luar maupun datang dari dalam.
d. cara belajar
            perlu sangat diperhatikan bagaimana teknik belajar , teknik bentuk catatan buku , pengaruh waktu belajar , tempat , dan waktu belajar yang dimiliki oleh siswa. Selain itu strategi belajar juga sangat menentukan cara belajar yang diambil oleh siswa.

2. Faktor dari luar
            Adapun faktor-faktor belajar yang datang dari luar adalah :
1.keluarga
            Situasi keluarga sangat berpengaruh pada kegiatan belajar anak. Jika orang tuanya perhatian pada anak dan rajin memberikan arahan pada anak , maka kegiatan belajar akan berlangsung dengan baik dan mudah pada anak tersebut. Selain itu latar belakang orang tua , pendidikan yang ditempuh orang tua , status ekonomi , kondisi rumah , dan yang paling paling utama adalah bimbingan dari orang tua terhadap anak tersebut.
2. sekolah
            Kondisi sekolah sangat mempengaruhi kegiatan belajar. Kondisi gedung sekolah , kualitas guru , perangkat kelas , jumlah murid per kelas sangat mempengaruhi kualitas belajar yang ada pada anak.
3. masyarakat
            Kondisi lingkungan masyarakat dimana anak berada , apabila ia berada di lingkungan yang penuh dengan orang-orang yang terpelajar maka biasanya lingkungannya akan memberikan kemudahan bagi anak tersebut dalam belajar.
4.lingkungan sekitar
            Bangunan rumah , kondisi iklim , keadaan lalu lintas sangat mempengaruhi tujuan belajar.
             tujuan belajar yang baik , akan terbantu oleh cara belajar yang baik. Adapun cara-cara belajar yang baik :
1.      Belajar itumemahami bukan sekedar menghafal. Fungsi utama mengapa kita harus belajar adalah untuk memahami hal-hal baru.
2.      Membaca adalah kunci belajar supaya kita bisa paham , minimal membaca materi baru yakni sebelum dan sesudah materi itu diterangkan oleh guru.
3.      Mencatat pokok-pokok pelajaran. Ambil intisari atau kesimpulan dari setiap pelajaran yang sudah dibaca ulang.
4.      Hapalkan kata-kata kunci,supaya mudah diingat pada saat otak kita memanggilnya.
5.      Pilih waktu belajar yang tepat waktu. Gunakan saat-saat ini untuk mengolah materi-materi baru.
6.      Bangun susana belajar yang nyaman , banyak hal yang bisa dilakukan untuk menjadikan kegiatan belajar menjadi anak , cara-cara yang kita berikan antara lain memilih lagu yang mood dan sesuai dengan kegiatan belajar. Sebagai saran kita bisa menciptakan suasana belajar yang santai dengan memberikan lagu-lagu yang santai dan klasik.
7.      Bentuk kelompok belajar , jika anak sedang bosan belajar secara sendiri. Kelompok bisa dibentuk melalui lingkungan rumah , geng pertemanan , dan juga bisa dari kalangan yang sesuai dan memiliki kemampuan yang sama dengan anak tersebut.
8.      Latih sendiri kemampuan yang kita miliki.
9.      Kembangkan materi yang sudah didapat dari guru maupun sumber-sumber lainnya.
10.  Sediakan waktu belajar yang cocok dan jangan lupa di selingi dengan istirahat yang cukup berkisar 40-45 menit untuk menenangkan syaraf-syaraf yang dipakai dalam belajar.
11.  Rajin berdoa agar mendapat petunjuk dari tuhan yang maha esa untuk belajar dengan baik.
12.  Hindari cara belajar yang berlebihan yang terjadi saat menjelang ujian , biasanya pada saat akan ujian kita belajar menghabiskan waktu semalaman , akibatnya pada saat akan menghadapi ujian maka pelajaran yang kita pelajari akan menjadi hilang dan tidak akan berguna saat ujian.
13.  Aktiflah dalam kegiatan belajar , sehingga dengan rajin bertanya maka bahan materi yang tidak kita ketahui akan bisa mendapat penjelasan yang lebih jelas dari guru sehingga akan lebih mudah dipahami oleh kita yang bertanya.

Adapun  cara belajar yang tepat ketika akan menghadapi ujian adalah :
1.      Belajarlah secara berkelompok agar , kita dapat mengambil pelajaran dari teman yang menguasai pelajaran yang tidak kita kuasai dan memberikan ilmu yang kita kuasai kepada teman-teman.
2.      Membuat intisari atau rangkuman pelajaran , agar pada saat kita belajar akan menjadi lebih mudah bagi kita dalam memahami pelajaran yang diujikan.
3.      Selalu tekun dalam belajar , yaitu kita dapat tekun dalam belajar , tidak hanya belajar pada saat akan menghadapi ujian tetapi setiap hari dengan jadwal yang ditentukan sendiri oleh kita.
4.      Bertanya jika belum paham akan materi yang dijelaskan.
5.      Hindari sikap cuek dan tidak jujur dalam belajar.

Dengan menguasai kegiatan belajar dengan menggunakan strategi dan cara belajar yang tepat maka kegiatan belajar yang di lakukan oleh anak akan berjalan efektif dan berjalan lancar.
 
e. peranan guru BK dalam proses belajar
            peranan guru  BK dalam proses belajar bisa terlihat dalam salah satu layanan BK yaitu layanan belajar. Dalam layanan belajar ini diberikan beberapa solusi terhadap permasalahan yang dihadapi anak dalam belajar. Layanan-layanan yang diberikan guru BK dalam proses pembelajaran antara lain :
1.      Memberikan beberapa saran terhadap penyelesaian hambatan yang menghalangi nya dalam belajar.
2.      Memberikan beberapa solusi atas kesulitan belajar yang dialami oleh siswa
3.      Membantu siswa dalam memilih lanjutan sekolah yang diinginkan dan sesuai dengan bakat dan kemampuan yang dimiliki oleh siswa tersebut.